NOTULA – Temuan awal sejumlah yayasan lembaga bantuan hukum pada peristiwa 21-22 Mei, menunjukkan, aparat hukum di Indonesia masih menggunakan pendekatan keamanan. Setidaknya, ada 14 temuan yang diungkap YLBHI terkait kerusuhan kemarin.

“Kepolisian adalah aktor keamanan yang seharusnya menjadi sipil, dia adalah bagian dari sipil, bagian dari masyarakat, karena itu tidak boleh menggunakan kekerasan secara berlebihan,” ungkap Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati, di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (26/5).

Menurut dia, aparat keamanan seharusnya mengedepankan asas praduga tak bersalah, artinya tidak seorangpun berhak dihukum sebelum korban mengalami suatu proses keadilan.

“Hakim bahkan hanya mengadili dan tidak bisa menghukum, siapa yang menghukum? Yang menghukum adalah lembaga pemasyarakatan. Jadi tidak boleh dalam satu tubuh, dalam suatu otoritas menjalankan fungsi menginvestigasi sampai kemudian menghukum,” tegasnya.

Dan yang memprihatinkan, lanjutnya, penggunaan kekerasan dalam pengamanan seakan dipertontonkan kepada publik. Perlakuan ini pun dianggapnya telah merusak nalar publik.

“Karena banyak komentar masyarakat yang kami lihat tidak menyatakan keprihantinan terhadap kekerasan itu, tetapi justru menyoraki, bahkan menyetujui kekerasan itu. Tentu saja kami tidak setuju dengan kekerasan apapun,” tuturnya.

“Kita harus lebih tidak setuju lagi apabila kekerasan itu diproduksi oleh negara yang dilakukan oleh aparat yang harusnya menjaga penegakan hukum,” lanjut Asfinawati, seperti dikutip dari rmol.co.

Dia juga menekankan, seharusnya yang paling berperan dan bertanggung jawab atas kondisi ini adalah para elite yang menyebabkan demokrasi Indonesia terancam, karena masyarakat saat ini tidak bisa lagi membedakan mana tindakan sah secara hukum dan mana tindakan yang tidak sah.