Yakin Mau Dibunuh, Ketum KNPI Serahkan Rekaman CCTV ke Polisi

Nasional

NOTULA – Ketua Umum DPP KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), Haris Pertama, yakin pengeroyoknya merupakan suruhan oknum yang ingin menghabisi nyawanya.

Kepada wartawan, Haris mengaku telah menyerahkan alat pendukung kepada polisi, yang diharapkan bisa menjadi petunjuk untuk menelusuri pelaku.

“CCTV di rumah saya sudah diambil pihak kepolisian dan memang ada indikasi kuat orang itu, oknum-oknum itu mengikuti saya dari kediaman sampai di restoran Garuda (lokasi penganiayaan),” kata Haris, di PN Jakarta Pusat, Selasa (22/2/22).

Dia berharap aparat kepolisia bisa segera menangkap pelaku dan mengungkap motif di balik penganiayaan yang menimpanya. “Saya sangat yakin pelaku dibayar untuk menghabisi nyawa saya, karena ada kalimat ‘bunuh dan mati’ saat memukuli kepala saya,” tandasnya.

Kasus Ferdinand Hutahaean

Pada bagian lain, seperti dikutip dari rmol.id, Haris Pertama menghadiri sidang lanjutan kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Ferdinand Hutahaean di Pengadaan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Selasa (22/2/22).

Meski dengan wajah lebam dibalut perban, Haris tetap memberikan keterangan sebagai saksi untuk terdakwa Ferdinand Hutahaean. Dia hadir ke PN Jakarta Pusat ditemani rekan-rekannya dari DPP KNPI.

Seperti diketahui, pegiat Medsos, Ferdinand Hutahaean, melalui akun Twitternya @Ferdinandhaean3, pada Selasa (4/1) lalu mengunggah kicauan, “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya. Dia lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela”.

Akibat cuitannya, Ferdinand dilaporkan oleh Ketua Umum KNPI, Haris Pertama, ke Polda Metro Jaya. Selanjutnya ditetapkan sebagai tersangka kasus ujaran kebencian dengan dakwaan empat pasal sekaligus.

Pertama, terkait penyebaran berita bohong di Medsos yang berpotensi membuat onar di masyarakat. Kedua, didakwa sengaja menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Ketiga didakwa telah menodai suatu agama. Dan keempat, Ferdinand didakwa menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan di muka umum. Perbuatan itu diduga ditujukan ke beberapa golongan rakyat Indonesia.

Meski wajahnya lebam bekas pengeroyokan, Haris Pertama tetap hadir di persidangan kasus Ferdinand Hutahaean. (rmol.id)