WHO: Vaksin Covid-19 Sangat Mujarab untuk Orang yang Tepat dan Membutuhkan

Kesehatan

NOTULA – Pakar terkemuka dari World Health Organization (WHO) mengingatkan, ketidakpercayaan publik pada vaksin Corona justru berisiko terhadap  perawatan. Bahkan jika vaksin sangat efektif, tetap tidak berguna untuk melawan pandemi.

“Vaksin yang disimpan di dalam freezer atau lemari es atau rak, dan tidak digunakan sama sekali, tidak membantu mempersingkat pandemi ini,” kata Kate O’Brien, Direktur Departemen Imunisasi Organisasi Kesehatan Dunia, seperti dikutip dari AFP, akhir pekan kemarin.

Raksasa farmasi AS, Pfizer, dan mitranya dari Jerman, BioNTech, Senin (9/11), mengumumkan, vaksin mereka terbukti 90 persen efektif mencegah infeksi Covid-19 dan telah dilakukan uji coba fase akhir yang melibatkan lebih dari 40 ribu orang.

O’Brien memuji hasil sementara itu sebagai pencapaian penting. Dia berharap data awal dari beberapa calon vaksin lainnya yang akan diujicobakan segera tersedia.

“Data menunjukkan, satu atau lebih dari vaksin ini memiliki khasiat sangat efektif dan sangat substansial, ,” katanya.

Tetapi dengan pandemi yang terus meningkat setelah merenggut sekitar 1,3 juta nyawa di seluruh dunia, dia merasa prihatin, karena banyak orang menunjukkan keraguan pada vaksin. Informasi yang salah mempengaruhi kepercayaan terhadap kemajuan ilmiah.

Banyak yang harus dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap vaksin. Ini melibatkan  WHO dalam evaluasinya.

O’Brien mengakui ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab tentang kandidat vaksin Pfizer-BioNTech dan rekan-rekannya, termasuk berapa lama perlindungan terhadap virus itu bertahan.

Sebuah pertanyaan besar, “Apakah itu mengubah kemungkinan Anda menularkan ke orang lain?”

Terlepas dari pertanyaan yang tersisa, WHO bertaruh pada satu atau lebih vaksin yang segera mendapat persetujuan, diikuti peningkatan produksi dan distribusi yang cepat.

Mengantisipasi permintaan besar untuk vaksin yang disetujui, badan kesehatan PBB telah membantu menciptakan fasilitas yang disebut Covax untuk memastikan distribusi yang merata.

Tetapi bahkan dengan upaya besar-besaran, perlu beberapa saat sebelum ada dosis yang cukup untuk semua orang, dan WHO telah menetapkan pedoman tentang cara memprioritaskan pendistribuasiannya.

“Tujuannya di sini adalah agar setiap negara dapat mengimunisasi 20 persen dari populasinya pada akhir tahun 2021,” kata O’Brien, seperti dikutip dari RMOL.id.

Itu, katanya, akan sangat membantu dalam memberikan perlindungan kepada para petugas layanan kesehatan yang berada di garda depan, serta pihak yang penting dalam pelayanan masyarakat, seperti guru.

Setelah itu, seberapa cepat setiap orang dapat mengakses vaksin akan sangat bergantung pada negara tempat mereka tinggal, dan apakah pemerintah mereka telah membuat kesepakatan untuk mengakses vaksin yang mendapatkan persetujuan.

“Kami mengharapkan lebih banyak dosis pada 2022,” kata O’Brien.

Tantangan logistik untuk mendapatkan vaksin yang disetujui bagi miliaran orang yang membutuhkannya, sebenarnya sangat mengkhawatirkan. Mulai dari produksi hingga memastikan pendistribusian dan penyimpanan pada suhu yang sangat rendah.

“Vaksin akan sangat mujarab dan aman, hanya berharga untuk dampak kesehatan masyarakat jika benar-benar sampai kepada orang-orang yang perlu dilindungi dan digunakan secara luas dalam populasi,” kata O’Brien.

Mengembangkan vaksin yang aman dan efektif “seperti mendirikan base camp di Everest,” katanya.

“Tapi sebenarnya mendapatkan dampak vaksin ibarat (seperti) harus mendaki Everest.”