Wenry: Kondisi Ekosop Menyadarkan Mahasiswa untuk Bangkit

Nasional

NOTULA – Kondisi ekonomi, sosial dan politik (Ekosop) Indonesia saat ini mengharuskan generasi muda, pelajar dan mahasiswa, bergerak proaktif dan melakukan kritik terhadap pemerintah.

Demikian dikemukakan aktivis Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAM-I), Wenry Anshory Putra, dalam siaran pers, seperti dikutip dari RMOL.id, Sabtu (21/11/20).

“Kondisi obyektif ekonomi sosial politik, lambat laun menyadarkan gerakan pelajar, mahasiswa, dan pemuda, untuk bangkit dan bersatu menolak berbagai kebijakan pemerintah yang sebenarnya menyengsarakan rakyat,” jelasnya.

Para pemuda, lanjut Wenry, kini sudah menyaksikan dan memahami adanya kondisi ketidakadilan dan ketimpangan sosial yang dirasakan betul oleh masyarakat.

“Sehingga berdampak pada kemiskinan yang merajalela, pengangguran meningkat, hancurnya industri dalam negeri, dan harga kebutuhan rakyat melambung tinggi,” rincinya.

Situasi itu, sambung dia, diperparah dengan penegakan hukum yang tidak adil, dan berkesan menjadi alat kekuasaan untuk menekan pihak-pihak yang dianggap merongrong kekuasaan.

“Hukum saat ini bagaikan pisau yang bila ditusukan ke atas semakin tumpul, tetapi ketika ditusukkan ke bawah semakin tajam,” ungkapnya.

Karena itu, peranan pemuda sebagai agent of change dan agent of control terhadap penentu kebijakan harus dimaksimalkan, mengingat sejarah telah menggariskan pelajar, mahasiswa, dan pemuda sebagai garda terdepan dalam setiap perubahan.

Makanya, Wenry mengajak para generasi muda, pelajar hingga mahasiswa untuk bergerak. Tanpa memandang sentimen dan pertentangan SARA yang justru akan memperlemah.

“Kita harus membangun gerakan persatuan kebangsaan, apapun suku, agama, ras, etnis, organisasi, profesi, dan pilihan politik, untuk bangkit bersama-sama mengkritisi berbagai kebijakan yang menyengsarakan rakyat,” ungkapnya.

“Tidak mungkin kita menggantungkan harapan kepada para elite politik yang saat ini justru menunjukkan sikap tidak negarawan. Mereka sama sekali tak memperjuangkan nasib rakyat, tapi mengutamakan kepentingan modal asing dan oligarki,” pungkas Wenry.