NOTULA – Meningkatnya eskalasi ancaman keamanan tergantung pada keberhasilan pranata hukum menyelesaikan kegaduhan politik yang kini tengah marak.

Menyimak konteks kekinian, TNI dan Polri harus menjaga agar integrasi sistem informasi, interoperability sistem informasi, hingga tertatanya compos ability sistem informasi dengan baik.

Padangan itu disampaikan pengamat intelijen dan pertahanan-keamanan, Susaningtyas NH Kertopati, dalam perbincangan dengan redaksi, beberapa saat lalu.

“Semua itu agar informasi perkembangan keadaan yang ada dapat terintegrasi dan diterima dengan tepat cepat oleh prajurit, utamanya yang ada di lapangan, sehingga tak ada kesalahpahaman,” tambah Susaningtyas.

Nuning, demikian ia akrab disapa, juga menambahkan, TNI dan Polri perlu mewaspadai arus masuk kekuatan proxy dan hibrida yang bisa saja hadir memperkeruh keadaan dengan mengadu domba antar anak bangsa melalui informasi hoax, bahkan post truth.

“Ini bahaya sekali, karena masyarakat cenderung percaya kepada hal-hal yang sesuai selera dan kepentingannya,” tambah doktor bidang komunikasi yang biasa disapa Nuning ini, seperti dikutip dari rmol.co.

Persoalan lain yang dipandang perlu dilakukan TNI dan Polri, menurut Susaningtyas, adalah pelibatan unsur masyarakat. Dia mengatakan, ini sesuatu keniscayaan.

“Ini sangat penting, terlebih bila ada penyusupan teroris dari kelompok radikal. Sebagai catatan, radikalisme itu bukan hanya dari kalangan muslim, tapi juga agama lain, yang juga memiliki probabilitas yang sama,” jelas mantan anggota Komisi I dan Komisi III DPR RI ini.

Susaningtyas mengingatkan, negara harus menghormati hak warganegara dalam kehidupan berdemokrasi. Namun di sisi lain, Indonesia yang berdasarkan hukum dan konstitusi tidak memiliki toleransi terhadap gerakan atau Ormas yang bersendikan radikalisme dan intoleransi di bumi.

“Aparat hukum hendaknya menindak tegas siapapun, tanpa pandang bulu, kepada mereka yang melakukan gangguan keamanan, namun harus dalam koridor hukum. Pihak Badan Intelijen juga harus meningkatkan deteksi dini akan adanya pihak yang mengganggu keamanan secara lebih proaktif,” pungkasnya.