Utang Indonesia 10 Kali Sri Lanka, Jangan Tenang-tenang Saja

Nasional

NOTULA – Sri Lanka resmi menyatakan bangkrut karena terlilit utang. Jangan sampai nasib Indonesia seperti itu, terlebih besaran utang Indonesia 10 kali lipat dari utang Sri Lanka yang hanya sebesar Rp 700-an triliun.

“Makanya, jangan tenang-tenang saja. Seolah (kita) belum lampu merah, sehingga masih aman karena masih di kisaran 40 persen PDB, dari 60 persen yang disyaratkan oleh UU keuangan,” tutur Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, Minggu (17/4/22).

Dia juga mengingatkan, rezim yang masing mengandalkan utang dan rendahnya kemampuan untuk membayar utang akan menjadi lampu merah yang jelas-jelas membahayakan negara.

Terlebih, sambungnya, seperti dikutip dari rmol.id, pembangunan infrastruktur yang banyak menggerus penggunaan utang di sektor itu banyak yang terbengkalai dan merugi dari sisi bisnis.

“Lihat saja beberapa bandara, jalan-jalan tol yang dijual murah, juga Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, sebagai contoh adalah penggunaan utang yang tidak efisien, tidak tepat guna dan pasti timbulkan kerugian,” jelas Muslim.

Menurut dia, inefisiensi anggaran sekitar Rp 4 ribu triliun lebih di sektor infrastruktur oleh Jokowi juga berbahaya. Karena negara kesulitan membayar kembali utang itu.

Penggunaan dana dari utang yang tidak efisien ini diyakini akan membawa kebangkrutan negara.

“Inefisiensi anggaran itu hampir mencapai 2 kali APBN. Tanda-tanda kebangkrutan negara ini semakin jelas dengan sejumlah kebijakan oleh rezim Jokowi untuk  menaikkan harga-harga dan pemberlakuan PPN 11 persen, dan memangkas subdisi,” paparnya.

“Jadi Indonesia bisa menyusul Sri Lanka sebagai negara bangkrut, dan itu tak dapat dihindari,” pungkas Muslim Arbi.