Ujang dan Adhie: Satu Generasi Rusak di Tangan Nadiem Makarim

Nasional

NOTULA – Pasca Rapat Paripurna DPR yang menyetujui usulan pemerintah menggabungkan Kemendikbud dengan Kemenristek diikuti isu resafel kabinet. DPR juga menyetujui pembentukan Kementerian Investasi.

Terkait peleburan dua kementerian itu, di Kemendikbud dipastikan akan terjadi perombakan.

Menanggapi itu, pengamat politik Ujang Komarudin meyakini, Mendikbud Nadiem Makarim masuk daftar menteri yang bakal diresafel. Pasalnya, banyak kebijakannya tidak jelas dan kontroversial dari mantan CEO Gojek itu.

Ujang Komarudin. (Foto: RMOL.id)

“Nadiem memang hebat di Gojek, tapi gagal dalam memimpin kementerian. Tak ada hal monumetal yang dilakukan Nadiem sebagai Mendikbud,” kata Ujang, Sabtu (10/4/21).

Dosen Universitas Al-Azhar Indonesia itu justru heran jika Nadiem tidak diresafel. Pada resafel sebelumnya, meski diprediksi (diresafel), ternyata dia lolos.

“Pada kocok ulang jilid I saya sudah katakan, Mendikbud layak untuk diresafel. Justru saya bingung ketika Nadiem tak diganti,” tegas Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu.

Sementara itu, mantan jurubicara Presiden Gus Dur, Adhie M Massardi, sebelumnya menyebutkan, satu generasi berantakan dan rusak di tangan Nadiem, lantaran tidak ada terobosan kebijakan, dan justru kerap kontroversial.

“Akhirnya anak-anak main selama setahun, tidak sekolah. Ini satu generasi berantakan,” kata Adhie, seperti dikutip dari rmol.id, beberapa waktu lalu.

Masalah di negeri ini menjadi sangat menakutkan, karena ditangani orang-orang yang tidak kredibel dan inkompeten.

Begitu kata Adhie Massardi, dalam diskusi bertajuk “Markobar, LPI, dan Korupsi” di akun YouTube PKAD (Pusat Kajian Dan Analisa Data), beberapa waktu lalu.

Salah satunya masalah Pendidikan, di mana saat ini bidang pendidikan ditangani pendiri aplikasi ojek online, Gojek, Nadiem Makarim.

Awalnya, kata Adhie, saat pandemi terjadi, masyarakat merasa yakin Nadiem yang lihai di bidang daring bisa memberi solusi, tapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Karena dia mainnya di online, pasti paham, pasti bener ini pilihannya. Tapi justru paling berantakan. Orang tidak dipikirkan punya gadget, pulsanya, dll. Kalau di kota masih bisa mandiri, kalau di daerah bagaimana?” Adhie balik bertanya.

Dia mengaku pernah ke Gunungkidul, Yogyakarta. Di daerah itu, dia menemui anak-anak usia sekolah tidak bersekolah sebagaimana di kota besar dengan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ), lantaran sarana tidak memadai dan guru juga tidak paham metode pembelajaran jarak jauh.

“Akhirnya anak-anak main selama setahun, tidak sekolah. Ini satu generasi berantakan,” kesalnya.

“Yang diurus Nadiem kan cuma seragam sekolah dan menghapus kurikulum agama,” pungkas Adhie Massardi.