Trontong Dor, Tarian Abadi Sejak Zaman Kerajaan

Hiburan, Malang Raya, NOT-TV

NOTULA – Konon, pada zaman kerajaan, ada tarian dengan tabuhan kendang. Ketika itu kendang jadi alat musik utama, karena belum ada gong ataupun alat musik logam lainnya.

Tarian itu dinamakan Trontong Dor, yang dijadikan bebunyian untuk memicu semangat para prajurit sebelum berlaga ke medan perang.

Kendang yang digunakan ada dua jenis, yang berukuran kecil dinamakan cimplung/trontong, sedangkan yang besar bernama jidor. Dari kobinasi dua kata itulah akhirnya lahir sebutan Trontong Dor.

Pimpinan Padepokan Gunung Ukir, Kota Batu, Ki Iswandi, yang akrab disapa Ki Wandi, mengisahkan, tarian ini merupakan genderang perang, pemicu semangat para prajurit yang hendak berperang.

Trontong Dor juga digunakan untuk menyambut seorang raja, juga sebagai pengantar syiar dan dakwah, karena pada tarian ini disematkan cerita berupa lawakan, ceramah, promosi, atau hal lain yang bisa menjadi pesan untuk khalayak.

Ki Wandi berharap generasi muda terus menjaga kelestarian budaya, agar anak cucu bisa tetap menikmati dan memaknai kekayaan budaya Indonesia.