Tersandera Investasi dan Utang, Pemerintah Tak Bersuara soal Muslim Uighur

Nasional

NOTULA – Protes dan kekecewaan muncul dari banyak kalangan terkait tidak adanya sikap tegas dari pemerintah menyangkut penindasan penduduk muslim Uighur di Xinjiang, China.

Jurubicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, KH Irfan Yusuf alias Gus Irfan, mengatakan, Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi Islam terbesar harus mengambil peranan. Ormas yang berdiri sejak 1926 itu harus angkat bicara soal Uighur.

“NU sebagai ormas Islam terbesar kok tak bersuara sama sekali, Muhammadiyah sudah berteriak. Saya berharap NU juga bersuara. Supaya didengar pemerintah China. Kalau Muhammadiyah ngomong, NU ngomong, mau tak mau pemerintah harus ikut ngomong tanpa mempertimbangkan utang dan sebagainya,” kata Gus Irfan, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/12).

Cucu pendiri NU ini mengaku khawatir, rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim akan menyampaikan sikap dengan caranya sendiri, bila pemerintah Jokowi lamban bersikap atas derita Muslim Uighur.

“Pemerintah sekarang ini tersandera gelombang investasi dan utang, sehingga tak berani menyuarakan sesuatu yang berkaitan dengan China,” tegasnya.

Sebagai pihak yang peduli terhadap isu kemanusiaan dan berpihak kepada Muslim, Gus Ifan memastikan Prabowo-Sandi Akan terus menyuarakan, agar pemerintah dan dunia internasional mendesak pemerintah China dan segera menghentikan diskriminasi terhadap etnis minoritas Muslim Uighur.

“Kalau pemerintah tidak respon terhadap isu minoritas Muslim Uighur ini, saya khawatir masyarakat sendiri yang merespon,” demikian Gus Irfan, seperti dikutip dari rmol.co.