NOTULA – Penanganan kasus penyebaran informasi bohong alias hoax sejak 21 hingga 28 Mei terkait kericuhan unjuk rasa 21-22 Mei lalu dirilis Mabes Polri.

Rilis disampaikan pada konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5). Pada kesempatan itu, Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, didampingi Wadir Tipidsiber Bareskrim Polri, Kombes Asep Safrudin, Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Rickynaldo Chairul.

Dedi Prasetyo mengatakan, penyidikan atau penanganan kasus hoax dilakukan oleh Direktorat Siber Bareskrim serta beberapa Polda jajaran, bersifat ultimum remedium atau penerapan sanksi pidana yang merupakan sanksi pamungkas (terakhir) dalam penegakan hukum.

Menurutnya, sejak 21 hingga 28 Mei telah ada 10 kasus hoax. Pertama tersangka atas nama SDA yang ditangkap pada 23 Mei dengan tuduhan adanya polisi negara tertentu yang masuk ke Indonesia untuk ikut mengamankan demo 21-22.

“Bahkan itu kontennya ikut melakukan penembakan ke masyarakat, saat ini tersangka sudah ditahan dalam proses penyidikan lebih lanjut,” ungkap Dedi.

Kedua, atas nama ASR, diamankan pada 26 Mei, terkait konten persekusi yang dilakukan aparat kepolisian terhadap seorang Habaib. Ketiga, MNA, ditangkap 28 Mei terkait konten negatif tentang Pemilu curang, ada video persekusi dan tuduhan penganiayaan yang dilakukan aparat di depan Masjid Tanah Abang.

Keempat, tersangka HU, ditangkap pada 26 Mei, menyebarkan konten bersifat provokasi dengan menyebarkan ujaran kebencian atau permusuhan, baik secara individu atau secara kelompok atau berdasarkan atas sara.

“Di captionnya tertulis, Brimob sweeping ke areal masjid, fix berwajah negara tertentu dan tidak bisa berbahasa Indonesia,” tuturnya.

Kelima, RR ditangkap 27 Mei, dia memposting konten pengancaman melalui akun Facebooknya akan membunuh tokoh tertentu, tokoh nasional. Keenam, M, ditangkap Direktorat Kriminal Khusus Polda Jateng, kaitannya dengan penyebaran informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan SARA.

Tujuh, MS, ditangkap Polda Sulsel pada 27 Mei, memviralkan foto nokoh nasional yang digantung dengan caption, mudah-mudahan manusia biadab ini mati dan lain sebagainya. Delapan, DS, diamankan di Polsek Jabar, 27 Mei, menyebarkan berita bohong terkait meninggalnya remaja 14 tahun yang dianiaya.

Kesembilan, atas nama MA, ditangkap di Sorong, Papua, pada 27 Mei. Yang bersangkutan menyebarkan konten negatif berupa video foto, dengan narasi berbunyi, pembunuhan kepada tokoh nasional. Sepuluh, 28 Mei dinihari, orang tersangka bernama H, menyebarkan konten berupa ancaman yang ditujukan kepada tokoh nasional, berupa narasi-narasi kebencian.

“Narasi-narasi yang sifatnya provokatif dalam rangka membangkitkan emosi dan opini publik, ini berbahaya apabila dibiarkan,” tegas Dedi, seperti dikutip dari rmol.co.

“Setiap ungkapan kasus penyebaran hoax selalu kita ekspos dengan menggunakan media mainstream, dengan demikian yang kita maksud bahwa akun-akun yang menyebabkan konten hoax itu harus betul-betul sadar diri, bahwa media sosial ini area publik, harus betul-betul bijak di dalam menggunakannya,” tambahnya.