Tembus Rp 7 Ribu Triliun, Muslim Arbi: Jokowi Pantas Disebut ‘Bapak Utang’

Nasional

NOTULA – Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi), hutang Indonesia meroket secara tajam. Bahkan, terakhir tercatat menembus Rp 7 ribu triliun.

Menyikapi itu, Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, mengingatkan, angka ini berbahaya bagi kesehatan keuangan dan tata kelola negara. Sekalipun jika dibandingkan dengan PDB, utang masih berkisar 40,17 persen, atau angka yang masih dianggap aman oleh pemerintah.

“Masalahnya angka itu pasti merangkak naik terus mendekati 60 persen, batas tertinggi yang disyaratkan oleh UU Keuangan Negara. Jika dilihat dari kinerja ekonomi pemerintah saat ini, tidak menutup kemungkinan Jokowi akan tambah utang lagi,” tuturnya, seperti dikutip dari rmol.id, Minggu (3/4/22).

Dan bila terus menambah utang, maka akan menambah beban keuangan negara, yang pada akhirnya mengakibatkan negara semakin tidak berdaya dan tidak berwibawa.

Lebih lanjut Muslim membandingkan kinerja Joko Widodo dengan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam mengelola utang. SBY dengan tegas melunasi utang RI ke IMF lebih cepat. Sementara di era Jokowi, untuk membayar bunga utang saja diperlukan utang baru.

“Apakah Jokowi sudah tidak mampu kelola negara lagi selain berutang dan berutang? Tidak kah ini berbahaya bagi kelangsungan negara ini? Tidak kah negeri ini telah tergadai karena utang oleh Jokowi yang bikin prestasi utang?” dia balik bertanya.

Muslim menilai bahwa Jokowi pantas dijuluki sebagai bapak utang.

“Pantas lah kalau Jokowi disebut “Bapak Utang”, dari prestasi pencapaian utangnya dibanding dengan jumlah utang presiden sebelumnya,” pungkas dia.