Teguh Santosa: Media Online Masih Prospektif

Nasional

NOTULA — Budayawan dan pendiri Museum Rekor Indonesia (Muri), Jaya Suprana, bersama wartawan senior, Teguh Santosa, membedah sekaligus mengulas bagaimana masa depan media online, Jumat (25/2/21).

Teguh Santosa yang juga CEO RMOL Network, menjelaskan, perkembangan awal media massa berbasis internet di Indonesia terjadi pada dekade 1990-an.

Menurutnya, pada masa itu jumlah pengakses internet belum begitu banyak, baru pada kisaran 500 ribu orang, kebanyakan mengakses internet dari kantor. Ketika itu media massa berbasis internet atau media online yang terkenal antara lain adalah detik.com, lippostar.com, dan astaga.com.

Karena market belum begitu besar, satu persatu media online tumbang. Hanya yang militan dan tidak menggunakan investasi besar, seperti detik.com, yang dapat bertahan. Selain itu, detik.com memiliki warna pemberitaan berbeda dibanding kebanyakan media mainstream pada masa itu.

“Saat itu hanya orang-orang yang bekerja di perkantoran yang bisa mengakses internet,” kata Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) itu, pada program Jaya Suprana Show bertajuk “Masa Depan Media Online”.

Mantan anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat itu mengatakan, media massa berbasis internet masih akan terus berkembang di masa depan. Tanda-tanda ke arah cerah itu sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu.

Perkembangan ICT, katanya, tidak hanya digunakan untuk pemberitaan semata.

Kepada Teguh, Jaya Suprana bertanya terkait titik tertinggi perkembangan media online.

“Anda tahu bahwa setiap pertumbuhan akan mencapai titik puncak, titik jenuh. Menurut Anda, apakah media online masih jauh dari titik puncak, atau sudah di ambang titik puncak?” tanya Jaya Suprana.

Menjawab pertanyaan itu, Teguh mengatakan, dirinya tidak tahu di mana titik puncaknya. Tetapi dia yakin, titik puncak itu masih jauh.

“Saya yakin kita sedang menanjak menuju ketinggian, dan saya tidak tahu dimana puncaknya,” tukas Teguh.

“Apakah tidak terhingga, invinitas?” tanya Jaya Suprana lagi.

“Mungkin sekali,” jawab Teguh.

Teguh juga juga mengatakan, keunggulan dunia digital  begitu terasa di era pandemi  Covid-19.

Bukan hanya untuk pemberitaan, platform digital juga digunakan di sektor pendidikan secara luas, juga di dalam forum-forum pengambilan keputusan para pemimpin dunia.

Tidak kalah penting, platform digital juga dimanfaatkan sebagai market place yang mempertemukan pelaku usaha baru dengan market.

Dia juga mengutip data yang dirilis Hootsuite baru-baru ini, yang menyebutkan, setidaknya 202 juta warganegara Indonesia memiliki akses ke internet.

“Saya yakin masa depan media online akan cerah,” ujarnya.