Teguh: Misi JMSI Mewujudkan Pers Sehat, Gita Wirjawan: Bedakan Fakta dan Fiksi

Nasional

NOTULA – Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) tidak hanya bertujuan menjadi konstituen Dewan Pers. Lebih dari itu, ingin menjadi organisasi yang berkontribusi nyata bagi terwujudnya pers yang sehat.

Demikian tegas Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, saat memberi sambutan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Semarang, Kamis (11/11/21).

Mewujudkan komunitas pers yang sehat di tanah air, sambung Teguh, merupakan tugas penting bagi JMSI. Untuk itu, seluruh pengurus pusat hingga pengurus daerah JMSI harus bersatu padu dalam tekad yang sama.

Langkah konkretnya, semua itu harus diawali dengan kehadiran perusahaan pers yang sehat dan wartawan profesional.

“Kata kunci yang ingin saya garis bawahi di sini adalah perusahaan pers yang sehat dan wartawan yang profesional,” tegas CEO RMOL Network itu.

JMSI, sambung dia lagi, akan berperan memberikan dukungan kepada media di daerah agar senantiasa melengkapi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan dan diatur Dewan Pers.

Ketika perusahaan pers yang sehat sudah terbentuk, otomatis para pekerja atau wartawan yang bekerja di media itu akan profesional dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya.

“Inilah peranan penting proses lahir dan keberadaan JMSI di tanah air,” pungkasnya.

Pada bagian lain, Ketua Dewan Pembina JMSI, Gita Wirjawan, secara virtual di hadapan 30 pengurus daerah JMSI yang hadir di Mutiara Ballroom, Hotel Metro Park View, Semarang, memaparkan gagasan, pemikiran dan ide terkait situasi global, hingga bagaimana mengoptimalkan JMSI sebagai wadah bagi perusahaan media berbasis siber.

Seperti dikutip dari rmol.id, dia mengingatkan, JMSI memiliki tugas mulia, yakni mengedukasi masyarakat luas agar bisa membedakan antara fakta, dengan non fakta maupun antara fakta dengan fiksi.

“Tugas kita dalam konteks jurnalisme adalah mengedukasi masyarakat luas agar maereka bisa membedakan antara fakta dengan non fakta, serta antara fakta dan fiksi. tugas kita memberikan vitamin bagi mereka agar imunitas kognitif kita semakin kuat,” kata Gita.

Jika masyarakat luas sudah bisa membedakan hal itu, JMSI berperan merawatnya secara berkesinambungan. Maka, Indonesia pada 2045 akan menjadi jembatan antara peradaban Tiongkok dan peradaban Amerika Serikat, menjadi jembatan antara Islam dengan dunia barat, bahkan jembatan dari berbagai peradaban yang ada.