Taufik: Aneh, Orang Gila Masuk DPT

Nasional

NOTULA – Kebijakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI yang memasukan penyandang gangguan jiwa pada daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu serentak 2019 dinilai aneh.

Ketua Sekretaris Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, M Taufik, berpendapat, langkah KPU itu sangat aneh. Sebab, dalam agama Islam, Allah SWT tidak memperhitungkan amal perbuatan orang gila.

“Orang gila, orang gila itu pahala tidak dikasih, dosa tidak dikasih. Ini agak aneh sih buat saya sih,” tegas Taufik, dalam diskusi bertajuk “Pilpres Jujur dan Adil, Ilusi atau Harapan?” di kantor Seknas Prabowo-Sandi, Jalan Hos Cokroaminoto 93, Jakarta Pusat, Selasa (11/12).

Menurutnya, kebijakan ini dikeluarkan karena ada kegundahan atas kejadian
tertentu dari pemangku kepentingan. Terlebih, lanjut Taufik, jumlah orang gila di negeri ini tidak bisa dibilang sedikit.

“Berdasar data yang dilansir, ada 14 juta orang gila, dan makin lama makin banyak orang gila,” sergah pimpinan DPRD DKI Jakarta ini.

E-KTP

Sementara, menyoal temuan ribuan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (E-KTP) kedarluasa yang berceceran di Pondok Kopi, Jakarta Timur, sebenarnya bukan pertama kalinya.

Sebelumnya, pada Mei 2018, hal yang sama juga terjadi di Jalan Raya Salabenda, Bogor.

Taufik mengaku heran dengan tudingan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, bahwa ada motif politik di balik temuan ribuan KTP-el tercecer.

“Kalau Mendagri bilang KTP tercecer ada kepentingan politik, yang pegang KTP itu siapa? Kan Dukcapil di bawah Kemendagri,” tegasnya.

Justru sebaliknya, menurut politisi Partai Gerindra ini, publik menduga Kemendagri yang mencoba berbuat curang dalam Pemilu 2019 nanti.

“Yang punya E-KTP memang saya? Saya ngapain nyiapin E-KTP berkarung-karung. Sumbernya dari mana?” Taufik balik bertanya, seperti dikutip dari rmol.co.