NOTULA – Mayjen Purn Kivlan Zen, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat, tak terima dituding makar sebagaimana dilaporkan seorang warga negara bernama Jalaludin, ke Bareskrim Polri.

Karena merasa tidak melakukan apa yang dituduhkan, Kivlan melalui kuasa hukumnya, Pitra Ramdhoni Nasution, balik melaporkan Jalaludin ke Bareskrim.

“Klien kami sangat keberatan dengan tuduhan itu. Karena klien kami, Kivlan Zen, tak pernah melakukan makar seperti dilaporkan Jalaludin,” kata Pitra di Bareskrim, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Sabtu (11/5).

Menurut dia, tuduhan makar yang dialamatkan kepada Kivlan merupakan ketidakpahaman seseorang tentang kebebasan berpendapat yang dijamin UU.

“Aksi unjuk rasa kan dijamin UU No 9/1998 dan dijamin dalam konstitusi Pasal 28e UUD 1945 tentang kemerdekaan menyatakan pendapat. Kenapa beliau ingin berpendapat ataupun protes tiba-tiba ada tuduhan makar,” tegasnya.

Karena itu, dalam laporan baliknya, Pitra menyangkakan dengan pasal 220 KUHP, pasal 310 KUHP dan pasal 311 KUHP, pasal 21 ayat 3 UU ITE dan pasal 28 ayat 2 UU ITE.

-Hendak ke Brunei Dibantah-

Pada kesempatan yang sama, kabar yang menyebutkan Kivlan Zen hendak kabur ke Brunei Darussalam saat dicekal Bareskrim Polri, dibantah keras.

Pitra Ramdhoni menjelaskan, kliennya tidak sedang ingin ke Singapura ataupun ke Brunei sebagaimana kabar yang beredar.

“Itu tidak benar. Yang benar, Kivlan Zen berangkat ke Batam untuk bertemu saudara-saudaranya dan hari ini dia bersama cucu-cucu dan anaknya,” jelas Pitra di Bareskrim, Jalan Trunojoyo, Jakarta, Sabtu (11/5).

Dia menduga ada pihak yang sengaja mendiskreditkan kliennya dengan memantau pergerakannya selama 24 jam.

“Saya curigai ada orang-orang yang memantau ataupun mengikuti dia, sehingga mereka tahu keberadaan Kivlan Zen di bandara. Tiba-tiba ada polisi, diperlakukan seperti teroris saja klien saya ini,” ujar Pitra.

Sebelumnya, Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Asep Adi Saputra, seperti dikutip dari rmol.co, menyatakan, pihaknya telah mengeluarkan surat cekal. Kivlan, kata Asep, diketahui hendak pergi ke Brunei Darussalam melalui Batam.