Tak Jelaskan soal Big Data, Sama Saja Sebar Hoax

Nasional

NOTULA – Sikap Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menanyakan dan meminta langsung Menko Marvest Luhut Binsar Panjaitan (LBP) membuktikan klaim big data soal penundaan Pemilu 2024, mendapat apresiasi.

Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution, mengatakan, mahasiswa UI telah menyampaikan pesan tajam, bahwa sebagai pejabat publik, Menko Marvest Luhut Binsar Panjaitan agar tidak asal bicara dan mengklaim ada keinginan masyarakat menunda Pemilu 2024.

“Jadi harus dibuktikan. Pertanggungjawaban pak Luhut sebagai pejabat publik harus jelas. Big data yang jadi dasar keinginan menunda Pemilu harus dibuktikan secara ilmiah,” tuturnya, seperti dikutip dari rmol.id, Rabu (13/4/22).

Jika tidak mau atau tidak berani menjelaskan kepada publik soal klaim big data, sama saja LBP hanya bisa membuat kegaduhan yang tidak perlu di republik ini. LBP yang notabene paling dekat dengan Presiden Jokowi, harusnya bicaranya terukur.

“Kalau tidak, apa bedanya omongan Menko dengan obrolan warung kopi? Apa bedanya dengan penyebar hoax?” ketus politkus Demokrat ini.

“Sebaliknya, jika big data itu ternyata salah atau ada kekhilafan, ya akui saja. Supaya polemik segera selesai. Saya kira teman-teman mahasiswa punya kesantunan untuk menerima kealpaan orang tua,” pungkasnya.

Bernasib Seperti Ade Armando

Menyikapi situasi belakangan, aparat kepolisian seharusnya segera memproses hukum terhadap LBP, yang diduga telah membuat kegaduhan atas klaim big data. Jika tidak, ditakutkan publik marah dan Luhut bernasib sama seperti Ade Armando.

Pernyataan itu disampaikan Direktur Gerakan Perubahan, Muslim Arbi, menanggapi sikap Luhut yang enggan membeberkan big data saat berhadapan langsung dengan mahasiswa Universitas Indonesia (UI).

“Luhut harus jujur soal big data 110 juta yang sengaja disebarkan itu. Karena itu sudah jelas-jelas hoax dan harus segera diproses hukum,” tegas Muslim, seperti dikutip dari rmol.id.

Jika hal ini tak kunjung diproses hukum, Muslim mengaku khawatir publik akan marah. Dia mengaku cemas Luhut akan bernasib sama seperti Ade Armando yang dianiaya saat hadir di acara demonstrasi BEM SI, di DPR RI, Senin (11/4/22).

“Jika dilindungi aparat karena pejabat dan punya pengaruh kuat di istana, saya khawatir akan timbulkan kemarahan rakyat dan Luhut bisa bernasib seperti Ade Armando,” pungkasnya.