Sutiaji: Jangan Berlebihan Memandang Jabatan

NOTULA – Kuliah subuh bersama Walikota Malang Sutiaji di Masjid Agung Jami Malang (23/5) menjadi ajang curhat (mencurahakan isi hati) jamaah (warga). Momen itu dimanfaatkan untuk menanyakan berbagai hal, mulai perbaikan infrastruktur hingga masalah sosial media.

Ada pengajuan permohonan percepatan perbaikan jalan, pembangunan trotoar di sisi utara lampu lalu lintas (sepanjang koridor depan pabrik rokok Banyu Biru hingga himpitan tembok Hotel Riche), permohonan santunan bulanan untuk Lansia, hingga penertiban data kependudukan.

“Alhamdulillah, selain silaturahmi, saling menguatkan keimanan, ketaqwaan dan pengetahuaan keagamaan, melalui forum pengajian kuliah subuh ini saya juga dapat menampung aspirasi warga, sekaligus menjelaskan apa-apa yang ditanyakaan jamaah,” Sutiaji mengawali pembicaraan.

Dalam kuliah subuhnya, Sutiaji menjabarkan hakikat Imsya dari ibadah puasa. “Inti puasa itu Imsya. Bukan semata batas waktu, tapi esensinya kemampuan manusia (umat Islam) membatasi dan mengendalikan keinginan-keinginan duniawi,” katanya.

Filosofi Imsya dalam ibadah puasa, sambungnya, sesungguhnya akan menjadi katalisator untuk tidak terjadinya ‘ghibah berjamaah’ atau yang dalam literasi bersosial media di kenal dengan istilah hoax, yang terviralkan dan digerakkan secara massive melalui percakapan antar personal hingga grup-grup sosial media.

“Itu sangat memprihatinkan, dan secara agama jelas salah, serta menciptakan desakralisasi nilai-nilai agama bila hoax itu juga menggunakan simbol simbol keagamaan,” walikota mengingatkan.

“Sesungguhnya kita (manusia) ini mayit. Karena 40 hari sebelum diambil roh, tanda-tanda kematian itu sudah digambarkan, sementara tidak ada seorang pun yang tahu dan dapat memastikan hidupnya bisa melewati 40 hari ke depan, bahkan esok hari,” kata dia.

Sebab itu, imbaunya, itu semua hendaknya bisa menjadi pengingat, agar tidak berlebihan dalam memandang jabatan, kekuasaan dan kekayaan.

“Karena apa yang kamu cintai akan kamu tinggalkan atau meninggalkanmu,” pungkas Sutiaji.