Suhu Politik Panas, Perkuat Toleransi dan Hindari Provokasi

Nasional

NOTULA – Jelang Pemilu serentak 2019 suhu politik kian memanas. Untuk itu semua elemen masyarakat diminta tetap bersatu dan tidak mudah terhasut provokasi.

Harapan itu disampaikan Direktur Keamanan Negara (Dirkam) Baintelkam Mabes Polri, Brigjen Djoko Mulyono, saat berbicara pada diskusi ‘Membangun Kebersamaan Antara Polri dan Segenap Elemen Masyarakat dalam Membendung Intoleransi’ di Jakarta, Jumat (7/12).

Dia meminta masyarakat agar jangan mudah percaya dengan bisikan setan yang berujung perpecahan dan gerakan intoleransi. “Semua elemen masyarakat harus tetap bersatu, jangan tercerai-berai,” tegas Djoko Mulyono.

Jenderal bintang satu ini juga berpesan agar tetap menanamkan kembali Pancasila untuk saling toleransi, menghargai dan menghormati.

“Jangan sebaliknya, suka mengkafirkan orang. Kita harus kembali memikirkan bangsa ke depan, jangan sampai anak cucu kita nanti menjadi korban,” katanya.

Sementara Presiden Majelis Dzikir RI 1, Habib Salim Jindan Baharun, memuji revolusi mental yang digaungkan Presiden Joko Widodo.

“Presiden kita luar biasa cerdasnya, karena beliau digerakkan lidahnya dengan mengeluarkan revolusi mental. Revolusi mental itu baik sesuai amanat Bapak Presiden Jokowi tapi masalahnya sekarang revolusi mental itu sudah hilang. Makanya kita butuh revolusi mental itu betul,” bebernya.

Habib Salim meminta agar kembalikan lagi revolusi mental Jokowi dengan amal agama, dan saling mengingatkan. Kata dia, semua anak bangsa wajib bersatu menangkal intoleransi. Dia juga mengakui jika jelang Pilpres intoleransi sangat berpotensi terjadi.

“Sebenarnya gampang mengantisipasinya. Cara counternya gampang, kumpulkan para tokoh-tokoh yang dianggap keras dan intoleran, ajak zikir bersama ingatkan kapan sih kita mati, ajak mereka nangis bersama, apakah kita merasa paling beriman dan beragama. Pakai konsep mengingatkan diri,” pesan Habib Salim lagi.

“Kalau ada yang dianggap garis keras dan suara intoleransi khilafah, kita pandang mereka sebagai anak bangsa, jangan pandang sebagai musuh dan orang menakutkan. Anggap mereka anak yang lagi nakal dan butuh dirangkul dan mereka hanya cari perhatian,” tambah dia lagi.

Masih di tempat yang sama, Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI Pendeta Henrek Lokra menyayangkan toleransi semakin melemah jika memasuki momentum politik. “Dinamika ini harus kita siasati. Pers harus bisa bantu untuk mempersatukan kembali,” katanya.

Cendikiawan Muda NU, Nur Ahmad Satria, mengingatkan agar para Capres yang bertarung di Pilpres tidak memakai isu agama. Kata dia, justru jika memakai isu agama maka kekalahan ada di depan mata.

“Elite politik pertimbangkan kepentingan bangsa lebih besar dari kepentingan pribadi. Jangan pakai isu-isu agama. Jangan jadikan agama buat main-main. Kalau yang pakai isu agama insyaAllah gak pernah menang dalam konteks sebenarnya,” terang Ahmad Satria, seperti dikutip dari rmol.co.