NOTULA – Komunitas Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) ikut berbela sungkawa atas wafatnya ratusan petugas Pemilu 2019 yang terdiri dari unsur KPU, Bawaslu dan aparat keamanan. Mereka juga meminta dilakukan audit medis.

“Kami keluarga besar BSMI ikut berduka cita sedalam-dalamnya. Kami juga mendoakan agar ribuan lainnya yang menjalani perawatan karena sakit, segera diberikan kesembuhan,” papar Ketua Umum BSMI, Djazuli Ambari, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (9/5).

Menurut Djazuli, masyarakat perlu mengetahui penyebab wafatnya ratusan penyelenggara Pemilu 2019. Hal itu bisa dilakukan dengan menggelar audit medis dan forensik.

“Audit medis dan forensik ini bisa berisi laporan kronologis medis perawatan dari korban sampai meninggal dunia. Keterangan yang lengkap lewat audit medis menjadi dasar pertimbangan untuk membuat regulasi Pemilu yang akan datang. Audit forensik bisa berupa autopsi,” katanya.

Dia menilai, dugaan kelelahan yang menjadi penyebab kematian masih perlu dibuktikan secara medis. Laporan lengkap yang tersaji dari semua kasus kematian, papar dia, bisa menjadi rekomendasi dunia medis bagi penyelenggara Pemilu.

“Apalagi salah satu syarat menjadi petugas PPS dan PPK itu melampirkan surat keterangan sehat dari Puskesmas atau RS terdekat. Kalau kemudian dinyatakan sehat dan terjadi seperti ini, justru memperkuat perlunya audit medis dan forensik,” sebut dia.

BSMI juga merekomendasikan petugas penyelenggara Pemilu ke depan dikenakan batas maksimal usia sebagai persyaratan. BSMI juga merekomendasikan masuknya unsur tenaga medis ke dalam PPK atau KPPS, guna mengantisipasi kejadian medis saat proses Pemilu.

“Kami berharap dari sisi medis ada peningkatan kualitas dengan melakukan berbagai upaya antisipasi agar tidak ada lagi korban yang berjatuhan setiap Pemilu digelar,” tutur dia, seperti dikutip dari rmol.co.