NOTULA – Salah satu korban kerusuhan pada aksi 22 Mei dipastikan meninggal akibat diterjang peluru tajam. Untuk itu, Komisi III DPR RI mendesak Kapolri, Jenderal Tito Karnavian untuk bertanggung jawab.

Salah satu anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil, menegaskan, Kapolri harus mencari tahu tentang oknum polisi yang diduga menembakkan peluru tajam itu. Jika sungguh-sungguh melanggar standar operasional prosedur (SOP), maka harus diberi sanksi tegas.

“Jadi kami meminta pertanggungjawaban Kapolri soal penggunaan peluru tajam yang telah memakan korban hingga meninggal dunia itu,” desak Nasir, seperti dikutip dari rmol.co, Kamis (23/5).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menambahkan, pihak kepolisian harusnya sudah tahu tentang bagaimana menghadapi pengunjuk rasa tanpa harus melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Kepolisian, katanya, harus menjunjung tinggi asas demokrasi, dalam hal ini kebebasan berpendapat.

Maka dari itu, selain mengejar pelaku penembakan, Nasir juga meminta Tito segera menjelaskan ke publik terkait kasus itu.

“Dan kami percaya Kapolri bisa menjelaskannya kepada publik soal penggunaan peluru tajam itu,” pungkasnya.