Soal Kayutangan Heritage, Dwi Cahyono: Yang Urgen Pelaksanaan dan Pengawasan Perda Cagar Budaya

Malang Raya

NOTULA – Istilah ‘Kayutangan Heritage’ belakangan menjadi perpaduan kosa kata yang kerap disebut-sebut warga Kota Malang, terlebih setelah pemerintah daerah ingin menghidupkan kembali ‘nyawa’ Kayutangan sebagai sebuah city landmark.

Assesor Cagar Budaya Indonesia yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Jatim, Dwi Cahyono, menyambut positif dan apresiatif atas langkah-langkah yang sudah dilakukan pemerintah daerah.

Lewat percakapan dengan notulanews, Selasa (21/12/20) malam, dia mengingatkan, Kayutangan sebagai sebuah nama jalan sekaligus kawasan, sejak 1928 memang sudah menjadi jalan pita, yang menyatukan kawasan bisnis.

“Lintasan trem dan perkampungan yang ada di belakangnya, merupakan bukti bahwa berkembangnya Kota Malang, hingga akhirnya menjadi kota nomor dua 2 di Jatim (sebelumnya nomor 5), tak bisa dilepaskan dari keberadaan kawasan Kayutangan, Alun-alun dan Pecinan,” katanya.

Memahami itu, sambung Dwi Cahyono, maka sudah menjadi kewajiban semua elemen pemerintahan dan masyarakat untuk menjaga eksistensi Kayutangan.

Tokoh Pelestari Cagar Budaya Indonesia 2015 itu juga menambahkan, menghidupkan Kembali kejayaan Kayutangan adalah keharusan, dengan segenap tenaga, selain karena cikal bakal bisnis di Kota Malang, juga konsep dan nama jalan yang tidak ada duanya di seluruh Indonesia.

Maksud pemerintah daerah merubah struktur jalan dari aspal ke batu andesit, yang katanya seperti kawasan Tugu Jogja dan Braga Bandung, semoga mampu memberikan ‘nyawa’ heritage bagi Kayutangan. Sebuah Langkah awal yang harus diapresiasi.

Wakil Ketua Kadin Jatim yang juga Wakil Ketua Badan Pelestari Pusaka Indonesia Pusat itu juga mengatakan, pemerintah daerah, masyarakat, dan khususnya warga yang bisnis dan tinggal di sana, harus sadar akan kekuatan heritage Kayutangan, yang mampu meningkatkan nilai sebuah brand image Kota Malang.

“Sebab itu, bila semua elemen itu tidak serius menjaganya, akan fatal akibatnya,” Dwi Cahyono mengingatkan.

Perda Cagar Budaya
Secara khusus, Dwi Cahyono yang juga Ketua PHRI Jawa Timur itu menyorot batu andesit yang kini sudah terpasang, dan Perda Cagar Budaya.

“Nah, sekarang tentang heritage Kayutangan, sebagai langkah awal, yang dirubah jalan aspal menjadi batu andesit. Menurut saya itu belum menjadikan satu kawasan biasa menjadi heritage, tapi sekadar dekorasi, nuansa pendukung terhadap satu kawasan tertentu,” katanya.

Bila ingin menyebut Kayutangan sebagai sebuah heritage, sambungnya, yang urgen dilakukan justru pelaksanaan dan pengawasan yang ketat Perda Kawasan Cagar Budaya, tetutama untuk kawasan cagar budaya di sepanjang Kayutangan.

“Syukur jika memungkinkan mengembalikan sesuai bentuk bangunan aslinya. Mumpung saat ini sekitar 20 persen facade toko yang tertutup papan reklame masih utuh, dan dengan mudah dapat dilepas, sehingga bisa diperlihatkan kembali bentuk asli bangunan heritagenya,” paparnya.

Owner Inggil Resto dan Museum Panji itu juga merinci, ada 3 kategori heritage, tangible (ragawi), intangible (tak ragawi), dan saujana (cultural landscape heritage). Kayutangan heritage merupakan perpaduan dari ketiganya.

Tangible, Kayutangan punya bangunan, situs, makam dan monumen. Intangible, ada kearifan nama kayutangan. Dan Saujana, Kayutangan mempunyai refleksi manusia, budaya dan lingkungan.

“Ketiga fakta itu sudah dimiliki Kayutangan sejak bouwplan, pengembangan kota ke-5 tahun 1930-an,” katanya lagi.

Bangunan heritage gaya Indische dan new bouwen masih tersisa. Nama kayutangan beserta kearifan cerita turun temurun mengenai asal usul kata dan fakta Kayutangan juga terjaga sampai sekarang.

“Sedangkan hubungan masyarakat Belanda yang berniaga di pinggir jalan raya dan penduduk ‘pekerja’ yang tinggal di kampung dalam Kayutangan, terangkai dengan beberapa peninggalan, seperti makam, pasar, dan sebagainya. Pas komplit, semua sudah ada sejak pemerintahan Belanda,” pungkasnya.