Semua Vaksin Covid-19 Harus Mendapat EUA BPOM

Nasional

NOTULA – Soal vaksin Covid-19, pemerintah terus diingatkan agar memastikan keamanan, efikasi, dan mutu, terlebih Kementerian Kesehatan akan menggunakan tujuh vaksin, yakni Sinovac, Novavax, COVAX, AstraZeneca, Moderna, Sinopharm dan Pfizer, dengan total kebutuhan 426,8 juta dosis.

Menurut anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati, saat proses vaksinasi gelombang pertama 13 Januari 2021 dilakukan, baru vaksin Sinovac yang sudah memiliki izin edar BPOM dan fatwa halal dari MUI.

“Menurut timeline, Emergency Use Authorization (EUA) vaksin AstraZeneca dari BPOM baru akan keluar April 2021. Sementara Novavac, COVAX dan Pfizer belum ada laporan terkait timeline keluarnya EUA dari BPOM. Meski efikasi di luar negeri sudah muncul, BPOM tetap harus mengeluarkan EUA saat vaksin ini disuntikkan ke publik,” pinta Mufida kepada wartawan, Minggu (17/1/21)

Seperti dikutip dari RMOL.id, Ketua DPP PKS ini mengingatkan, efikasi sinovac di beberapa negara berbeda-beda dengan Indonesia. Sehingga, vaksin lain yang akan digunakan juga mesti melewati standar uji klinis dari BPOM.

“Yang pasti, kita tidak bisa main-main dengan keamanan dan mutu vaksin, salah satunya dengan ditunjukkan lewat efikasi dan juga fatwa halal dari MUI,” tuturnya.

Wakil Sekretaris Fraksi PKS ini juga menyebutkan, informasi yang terang benderang terkait keamanan vaksin di awal akan membuat kepercayaan masyarakat akan semakin meningkat.

“Jika tahapan dilakukan dengan benar dan terbuka, kepercayaan publik untuk menerima vaksin akan terbangun,” tegasnya.

Dia juga meminta proses distribusi vaksin melibatkan kesiapan pemerintah daerah. Ia mendapat laporan, beberapa daerah tidak memiliki standar tempat penyimpanan vaksin yang memadai.

Apalagi saat ini banyak bencana alam di Indonesia, dan beberapa akses transportasi tertutup. Mufida menekankan, distribusi obat tetap harus menggunakan standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB).

“Mitigasi penyaluran vaksin ini harus memperhitungkan semua kemungkinan, termasuk bencana alam. Sebab proses distribusi vaksin akan terus berlangsung hingga semester pertama 2022,” pungkasnya.