NOTULA – Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) merilis temuan awal hasil pemantauan bersama terkait peristiwa 21-22 Mei, melibatkan KontraS, LBH Jakarta, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Amnesty Internasional Indonesia, Lokataru Foundation, dan LBH Pers.

Ketua Umum YLBHI, Asfinawati, menyatakan prihatin atas banyaknya fakta yang digali dari kericuhan 21-22 Mei, khususnya yang dilakukan aparat keamanan.

“Semakin terungkap berbagai indikasi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan ini hanya temuan awal. Artinya, masih ada temuan berikutnya yang lebih dalam,” ungkapnya, di Gedung YLBHI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (26/5).

Menurutnya, ditemukan 14 hal, pertama, pecahnya insiden yang mengarah pada kerusuhan. Kedua, terkait korban yang sangat banyak, terdiri dari kalangan usia muda dan kalangan jurnalis, serta masyarakat umum, dan orang sekitar yang tidak tahu apa-apa.

“Bahkan juga tim medis. Ketiga, kami juga memberikan temuan awal tentang penyebab. Keempat, pencarian dalang di balik ini semua. Kelima, tentang tim investigasi internal yang dibuat oleh kepolsian, dan keenam indikasi penanganan demonstrasi, serta ketujuh penutupan akses tentang korban oleh rumah sakit,” tuturnya.

“Jadi hampir seluruh terluka, nyaris seluruh rumah sakit tidak memberikan keterangan yang jelas tentang korban. Penanganan yang tidak segera, ada orang yang bergelimpangan dan tidak ada yang melakukan penanganan keselamatan jiwa mereka,” lanjutnya.

Selain itu, seperti dikutip dari rmol.co, ia juga menyoroti adanya temuan penyiksaan dan perlakuan tak manusiawi, salah tangkap, hingga penghambatan informasi bagi keluarga korban.

“Kemudian yang ke sebelas kekerasan terhadap tim medis, dua belas penghalang-halangan peliputan kepada jurnalis, dan tiga belas penghalangan akses kepada orang yang ditangkap untuk umum dan advokat. Terakhir atau keempat belas, pembatasan komunikasi media sosial,” tandasnya.