NOTULA – Ekonom sekaligus tokoh nasional, Dr Rizal Ramli, bercerita tentang para pemimpin bangsa yang legawa di tengah proses Pilpres 2019. Dia melihat sikap presiden terdahulu, dari Soekarno hingga Gus Dur, sangat mengutamakan kepentingan rakyat.

“Kita semua tau, pendahulu bangsa ini sudah banyak memberikan contoh sikapnya yang mengutamakan rakyat. Mulai dari Soekarno hingga Gus Dur,” kata RR, sapaan akrabnya, di sela-sela buka puasa di Jakarta, Minggu (12/5).

Menurutnya, Soekarno sebagai presiden pertama memilih legawa mundur dari singgasana saat masyarakat telah terbelah antara pro dan kontra terhadap sang Proklamator itu.

Terutama pasca meletusnya Gerakan 30 September. Ketika itu ada sikap mosi tidak percaya dari publik. Tapi saat itu dia masih memiliki kekuasaan, sebab masih banyak militer yang mendukung Soekarno.

“Ketika itu Angkatan Laut sama dia, Angkatan Udara sama dia, Angkatan Darat masih banyak yang loyal sama dia, rakyat biasa juga banyak yang sangat loyal sama Bung Karno, tapi dia memilih legawa mundur,” paparnya.

Begitu juga dengan sikap Presiden RI Soeharto. Di akhir masa kepemimpinannya dia menyadari bahwa rakyat sudah tak lagi menghendakinya untuk berkuasa. Kesadaran itu muncul saat terjadi huru-hara di berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta pada Mei 1998. Meski berkuasa dan ABRI masih di bawah kendalinya, Soeharto memilih legawa mundur dari jabatannya.

“Waktu Soeharto sepulang dari Mesir, situasi di Indonesia sudah karut marut. Lalu dia bertanya pada Wiranto yang kala itu menjabat sebagai Pangab soal situasi yang sudah chaos. Pak Wiranto memastikan ABRI bisa all out, tapi korban dari rakyat banyak banget. Pak Harto-pun akhirnya memilih mundur dan situasi di Indonesia-pun kondusif,” ungkap Rizal Ramli.

Sikap serupa ditunjukkan Presiden ketiga RI, BJ Habibie. Menurut dia, Habibie menyadari bahwa rakyat tak menghendakinya memimpin Indonesia. Hal itu didasari oleh demontrasi dari kalangan masyarakat seolah-olah tak ada hentinya.

“Kalau dia (Habibie) ikut di pemilihan presiden, bisa saja dia menang. Tapi dia tahu, habis itu dia akan didemonstrasi terus. Akhirnya Habibie memutuskan tidak mau maju jadi calon presiden,” tukasnya, seperti dikutip dari rmol.co.

Demikian juga juga dengan Presiden keempat RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mantan ketua umum PBNU itu di-impeach oleh DPR/MPR sehingga membuat para nahdliyin geram dan berencana bergerak ke ibukota Jakarta untuk mengamankan posisi Gus Dur.

“Tapi, dia (Gus Dur) yang telepon NU di seluruh Indonesia, Banser, dan GP Ansor, supaya jangan ngirim orang ke Jakarta. Dia enggak mau korban berjatuhan dari rakyat,” imbuhnya.

Dari semua cerita itulah, RR kembali mengingatkan bahwa pemimpin bangsa harus mengutamakan keinginan rakyat banyak ketimbang memenuhi ego sendiri dan kelompoknya.

“Pemimpin hari ini harus belajar dari sejarah. Jangan ngotot, jangan ngeyel. Pemimpin-pemimpin Indonesia sebelumnya, semuanya nrimo. Bahwa ketika waktunya rakyat sudah enggak mau, mereka legawa undur diri. Tidak ngotot, karena mereka tahu korbannya rakyat,” pungkasnya.