Rizal Ramli: Produk Jurnalistik Bukan Propaganda Politik

Nasional

NOTULA – Pers harus konsisten dan berkomitmen menjaga demokrasi di negeri ini. Salah satunya dengan tetap independen dan tidak berpihak pada kubu calon presiden dan calon anggota legislatif manapun di tahun politik.

Demikian pesan ekonom senior, DR Rizal Ramli, saat menghadiri Kongres ke-VI Poros Wartawan Jakarta, di Cilember, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/12) dan Minggu (9/12). Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu mengisi diskusi bertajuk ‘Membangun Asa Negeri dari Perspektif Jurnalis’.

“Produk jurnalistik bukanlah propaganda politik. Jadi, kalau kawan-kawan jurnalis masih merasa sebagai jurnalis, sebaiknya tidak terjebak pada dukung mendukung Capres atau Caleg,” harapnya.

Dia juga menjelaskan, produk jurnalistik bersifat memberi informasi secara obyektif. Informasi itu juga harus memberi efek mencerdaskan masyarakat.

“Selain itu, daya kritis harus lebih tajam agar pemerintah mampu berbenah,” jelasnya, seperti dikutip dari rmol.co.

Objektivitas yang diangkat media harus didasarkan pada data dan fakta yang kuat. Sehingga produk yang dihasilkan bukan hoax.

“Sebaiknya harus ada kroscek lagi, jangan sampai justru ‘dimanfaatkan’ narasumber tersebut. Misalnya soal klaim pemerintah soal terlampauinya target penerimaan negara, apa benar demikian?” Rizal Ramli balik bertanya.

Dalam kongres itu Tri Wibowo Santoso kembali terpilih sebagai ketua umum untuk masa bakti 2018 hingga 2020.

Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Bowo itu menilai tahun politik tak hanya menjadi ujian bagi wartawan untuk menjaga independensi. Yang harus diperhatikan adalah keselamatan bagi wartawan terhadap kemungkinan-kemungkinan intimidasi dari pihak tertentu yang tidak suka dengan pemberitaan yang ditulis.

“Jangan sampai dampak dari pemberitaan wartawan membuat pihak tertentu menjadi geram, dan yang dijadikan sasaran adalah wartawan yang menulis berita. Ini yang sering menjadi masalah, perlindungan terhadap wartawan masih kurang,” tegas Bowo.