Refly Harun dan Fickar Bingung, 6 Almarhum Laskar FPI Ditetapkan Tersangka

Nasional

NOTULA – Enam laskar Front Pembela Islam (FPI) yang telah meninggal dunia dalam insiden Tol Jakarta-Cikampek km 50 ditetapkan sebagai tersangka oleh Direktur Tindak Pidana Umum (Dit Tipidum) Bareskrim Polri.

Penetapan itu dinilai berlebihan. Keenamnya dijerat pasal 170 KUHP. Selanjutnya, karena para tersangka yang ditetapkan telah meninggal dunia, Polri tetap akan menguji alias gelar perkara dengan pihak Kejaksaan.

Menanggapi itu, pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, mengatakan, yang dilakukan Polri itu merupakan tindakan yang berlebihan, dan tidak berdasar hukum.

“Karena KUHAP menentukan, gugurnya hak menuntut adalah meninggalnya seseorang,” tegas Fickar, seperti dikutip dari RMOL.id, Kamis (4/3/21).

“Sebab itu, tidak ada alasan yuridis apapun untuk menentukan orang yang sudah meninggal sebagai tersangka,” tegasnya lagi.

Refly Harun Bingung

Sementara itu, pakar hukum tata negara, Refly Harun, mengaku bingung dengan penetapan tersangka terhadap enam laskar FPI yang tewas. Dia pun sempat menanyakannya langsung kepada ahli hukum pidana.

“Agak membingungkan. Saya sempat telepon ahli hukum pidana. Saya tanya, kira-kira pernah ada sebuah preseden, mayat atau jenazah dijadikan tersangka? Jawabnya, pengetahuannya tidak pernah,” tegas Refly, dalam video di channel miliknya yang berjudul “6 Arwah Jadi Tersangka”, Kamis (4/3/21).

Menurutnya, orang yang ditetapkan sebagai tersangka tapi telah meninggal, maka kasusnya dihentikan. Dia memberi contoh kasus dugaan ujaran kebencian yang dilakukan Soni Eranata alias Ustaz Maaher At Thuwailibi.

“Kasus pidana dan perdata beda. Perdata, kalau meninggal bisa dialihkan ke pihak lain yang berhubungan. Kalau pidana itu individual responsibility, jadi gak lazim,” ujar Refly.

Seperti diberitakan, Bareskrim Polri menetapkan 6 anggota laskar FPI yang tewas sebagai tersangka. Mereka dianggap telah melakukan penyerangan kepada aparat saat hendak ditangkap.