NOTULA – Quick count alias hitung cepat yang tak sesuai real count Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Provinsi Bengkulu, menjadi bukti bahwa kebanyakan lembaga survei hanya membangun opini sesat.

Demikian disamapikan Juru Debat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Arief Poyuono. Dia menduga, opini sesat itu sengaja dibangun untuk memuluskan kecurangan saat real count, demi memenangkan pasangan Joko Widodo-Maruf Amin.

“Jadi, quick count yang salah total di Bengkulu menjadi bukti awal bahwa memang quick count digunakan untuk membangun opini sesat oleh lembaga survei, dengan tujuan melakukan kecurangan saat real count, yang nantinya akan memenangkan pasangan 01,” katanya, dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Minggu (28/4).

Tak hanya itu, menurut dia, tujuan lain dari quick count juga untuk melemahkan harapan dan semangat mayoritas masyarakat Indonesia yang memang ingin ganti presiden.

Sayangnya, kata dia, masyarakat Indonesia tak bisa dibohongi dan dibodohi oleh quick count lembaga-lembaga survei yang sebenarnya hanya cari keuntungan.

“Apalagi sekarang kecurangan-kecurangan yang banyak menguntungkan pasangan 01 di era kemajuan teknologi bisa langsung diketahui dan disebar oleh masyarakat melalui Medsos,” imbuhnya.

Sebab itu dia mengingatkan, jika kecurangan dilakukan untuk mendapatkan kemenangan, itu bisa menciptakan kerusuhan. Sebab bukan tidak mungkin masyarakat akan merasa ditipu dan dicurangi oleh lembaga survei, KPU, kubu 01. Parahnya lagi, ada dugaan aparat Polri berlaku tidak netral.

“Ingat ya, jangan sampai kerusuhan akibat kecurangan di Pilpres bisa menyebabkan disintegrasi bangsa lho,” pungkas Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini, seperti dikutip dari rmol.co.