NOTULA – Hitung cepat (quick count) yang memenangkan Jokowi-Maruf dinilai sebagai kebohongan publik yang nyata. Demikian disampaikan Koodinator Komunitas Relawan Sadar Indonesia (Korsa), Amirullah Hidayat, dalam keterangan persnya, Rabu (17/4).

Amirullah berpendapat, kebohongan lembaga survei dapat dibuktikan, salah satunya yang mengeluarkan hasil wilayah Bali, Jokowi dapat 90 persen suara.

“Tidak masuk logika, karena hasil yang Korsa kumpulkan di lapangan, Prabowo Sandi mendapatkan suara 40 persen,” jelasnya.

Dia menambahkan, masalah serupa terjadi di Jawa Timur. Hasil yang dikeluarkan lembaga survei mengatakan Jokowi mendapat suara 70 persen.

“Jelas itu kebohongan yang nyata, karena suara Prabowo di Jawa Timur itu 56 Persen. Ini dapat kita pertanggung jawabkan,” tegasnya.

Sebab itu itu, lanjut Amir, Korsa meminta rakyat tidak mempercayai hasil hitung cepat yang dikeluarkan lembaga survei dan diviralkan oleh televisi. Itu dinilai penggiringan opini publik bahwa Jokowi menang.

Dari data sementara yang Korsa peroleh secara nasional, pasangan Jokowi-Maruf hanya memperoleh suara 39 persen dan Prabowo-Sandi 61 persen.

“Besok kami akan finalkan data secara keseluruhan,” ujarnya, seperti dikutip dari rmol.co.

“Kami minta Komisi Pemilihan Umum (KPU) segera melakukan audit terhadap lembaga survei akibat kebohongan publik yang dilakukan. KPU juga harus netral, jangan ikuti keinginan penguasa yang mau menang dengan segala cara, salah satunya menggiring opini publik melalui lembaga survei, dan kami siap laga data,” pungkasnya.