Prof Laode: Kita Cemas Melihat Kesenjangan antara Idelisme Pancasila dengan Kenyataan

Nasional

NOTULA – Dalam rangka memperingati hari kelahiran Pancasila. refleksi kebangsaan digelar Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), Rabu (1/6/22).

Melalui webinar yang digelar mahasiswa UICI dengan tajuk “Menalar Doktrin Pancasila: Disrupsi Sejarah antara 1 Juni dan 18 Agustus”, Rektor UICI, Prof Laode Kamaluddin, menyampaikan pandangannya tentang pengkhitmatan Pancasila terhadap kehidupan bangsa.

“Kita tahu bahwa Pacasila sebagai dasar dan ideologi negara. Setiap kali kita merayakan hari kelahiran Pancasila, kita selalu berhadapan dengan perasaan mendua,” tutur Laode pada kata pengantar webinar.

Menurut dia, perasaan mendua yang dia maksud adalah karena Pancasila yang dirumuskan para founding father itu merupakan ideologi negara yang inklusif, yang mampu merekonsiliasikan seluruh perbedaan suku-suku bangsa Indonesia secara humanis.

“Sehingga kita dapat bersatu dalam keadaan yang cukup baik dan ideal. Tapi di lain pihak, kita cemas-semas berat, karena ada kesenjangan cukup lebar antara idealisme Pancasila dengan kenyataan yang ada,” ucapnya, seperti dikutip dari rmol.id.

Laode menyebutkan sejumlah faktor yang menjadi sebab munculnya persepsi kesenjangan yang cukup lebar antara Pancasila dengan realitas kehidupan berbangsa dan bernagara saat ini.

“Ke mana pun kita melangkah, kita melihat fakta-fakta dalam kehidupan kita ini ada pertanyaan, ‘apakah betul kenegaraan kita ini sesuai dengan Pancasila atau tidak?’ Ini pertanyaan yang selalu membuat kita merenung,” ucapnya.

Karena, sambung dia, semua melihat bahwa ekonomi dibangun penuh dengan KKN dan nepotisme. “Hukum penuh dengan ketidakpastian dan ketidakadilan. Secara sosial juga terjadi fragmentasi di antara kita,” sambungnya.

Laode berharap Indonesia bisa merefleksikan diri sebagai salah satu bangsa yang dibangun dalam sebuah gagasan besar. Pasalnya, yang dia ketahui hanya ada 3 negara di dunia ini yang dibangun berdasarkan gagasan.

“Yang paling tua adalah Amerika Serikat, dibangun atas dasar Decalaration of Independence. Kemudian Indonesia yang dibangun dengan gagasan Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, yang didalamnya terakomodasi mulai dari sila pertama sampai sila kelima,” paparnya.

Dan negara ketiga yang dibangun berdasar gagasan adalah Uni Soviet, dengan mengacu pada manifesto politik komunis.

“Tapi kemudian, pada usianya yang ke-70 tahun manifesto komunis itu bubar, karena dibangun atas adasar pemaksaan, sehingga kemudian bubar karena tidak tahan dengan perkembangan zaman,” tandasnya.