Preshold 20 Persen Hambat Rakyat Cari Calon Presiden Terbaik

Nasional

NOTULA – Presidential threshold (Preshold) atau ambang batas presiden 20 persen dinilai hanya menghambat rakyat dalam mencari calon pemimpin terbaik.

Pernyataan itu disampaikan pengamat politik dan pakar hukum tata negara, Refly Harun, pada diskusi Total Politik bertema Haruskah Presiden Indonesia Orang Jawa? di Jakarta, Minggu (19/12/21).

Menurutnya, Indonesia bisa mencari sosok pemimpin ke depan dari luar Pulau Jawa. Keyakinan itu didasari bahwa ke depan akan ada perubahan cara berpikir masyarakat.

Tapi, sambung dia, perubahan cara pandang masyarakat soal pemimpin Indonesia dari luar Jawa akan terhambat, jika pemerintah bersikukuh pada aturan ambang batas pencalonan presiden sebesar 20 persen.

“Persoalannya Preshold 20 persen. Itu yang bermasalah, karena akhirnya kita tidak bisa mencari calon presiden terbaik,” kata Refly.

Dia juga khawatir jika partai-partai koalisi Istana yang jumlahnya 82 persen bersepakat mengusung dua calon sebagai syarat minimal Pilpres.

Sebab itu dia berpendapat, perlu ada upaya politik untuk membelah 82 persen partai koalisi itu, untuk membentuk pasangan calon presiden.

“Satu pasangan Prabowo-Puan satu Airlangga-Muhaimin Iskandar, misalnya.  Atau mereka belah tiga, satu Prabowo-Puan, dua koalisi PKB-PPP dan PAN kemudian sisanya Golkar dan Nasdem, tetap tiga calon, tapi distribusinya adalah koalisi istana saat ini. Kalau itu yang terjadi kita tidak akan punya genuine presidential election,” ucapnya.

Saat ini, sambung Refly, seperti dikutip dari rmol.id, seharusnya yang menjadi penting diperbincangkan adalah presidential threshold 0 persen.

Sebab itu, saat ini dia bersama sejumlah aktivis dan tokoh, tengah memperjuangkan ditiadakannya ambang batas, demi mendapatkan pemimpin terbaik.