NOTULA – Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai, memprediksi, pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo dan Maruf Amin bakal tumbang pada Pilpres 17 April 2019 nanti.

Prediksi itu disampaikan Pigai atas dasar hitungan matematika sederhana yang didasarkan pada statistik Pilpres 2014.

Menurut dia, membaca komposisi suara Pilpres 2019 tidak butuh lembaga survei. “Cukup berlogika dengan statistik sederhana, dan kita sudah bisa tahu siapa pemenangnya,” kata Pigai, Rabu (10/4).

Berdasar hitung-hitungan Pigai, pasangan Prabowo-Sandi bakal menang dengan selisih di atas 10 persen, atas dasar statistik Pilpres 2014 lalu.

Pada Pilpres 2014 yang memenangkan Jokowi-Jusuf Kalla dengan angka 53,15 persen, Pigai membagi komponen perolehan suara Jokowi-JK menjadi empat bagian.

Pertama dari faktor Jokowi. Berdasarkan perolehan pileg, Jokowi berhasil mengambil ceruk 30 persen jika dilihat dari hasil Pileg PDIP. Saat itu, PDIP sebagai partai pengusung meraih 18,95 persen.

Kemudian faktor JK. Hitung-hitungan Pigai, sosok JK mampu mengamankan suara sebanyak 16 persen. Kemudian faktor Ahok yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta menyumbang 5 persen, dan dari swing voters 2,15 persen.

Di Pilpres 2014, Prabowo-Hatta meraih 46,85 persen. Jika diuraikan, persentase tersebut diperoleh dari sosok Prabowo yang dipilih 40 persen. Kemudian pengagum Hatta Rajasa 5 persen, dan swing voters 1,85 persen.

Dari uraian di Pilpres 2014 itu, kata Pigai, bisa diketahui hasil Pilpres 2019 yang mempertemukan Jokowi-Maruf dan Prabowo-Sandi. Prediksi mantan Komisioner Komnas HAM ini, pemilih JK dan Ahok akan berkurang signifikan lantaran keduanya bakal beralih ke Paslon 02.

“Jadi 13,5 persen pemilih JK akan hilang karena indikator orang-orang JK mendukung 02. Sementara 2,5 persen pendukung Ahok hilang karena sikap Jokowi kepada Ahok,” jelasnya.

Pengagum Jokowi, menurutnya, tak akan berubah dari 30 persen, faktor JK tinggal 2,5 persen yang memilih petahana, lantaran 13,5 persennya telah beralih ke 02.

Sedang faktor Ahok juga tinggal separuh, atau 2,5 persen, karena kecewa dengan Jokowi dan swing voters yang pada 2014 berada di angka 2,15 menurun menjadi 1,5 persen karena kecewa dengan kinerja Jokowi.

Dalam hal ini, Jokowi hanya bertambah angka dengan keberadaan Maruf Amin yang diprediksi menambah suara 5 persen.

Jika ditotal dari fenomena itu, Jokowi-Maruf hanya akan mendapat 40,5 persen di Pilpres 2019, dihasilkan dari jumlah pemilih Jokowi sebanyak 30 persen, JK 2,5 persen, Ahok 2,5 persen, Maruf 5 persen dan swing voters 0,5-1,5 persen.

Hal berbeda justru terjadi pada perolehan suara Prabowo-Sandi. Dengan skema yang sama, pemilih sosok Prabowo akan tetap 40 persen, pun demikian dengan loyalis Hatta sebanyak 5 persen.

Swing voters 2014 yang sebelumnya 1,85 naik menjadi 2,5 persen. Sosok Sandiaga juga bakal menambah suara sebanyak 10 persen, dan ditambah dengan migrasi Jokowi-JK di 2014 menyumbang 2 persen.

Jika dilihat dari kalkulasi ini, kata Pigai, maka total suara yang bakal diraih Prabowo-Sandi merangsek di angka 59,5 persen.

“Dengan demikian, Prabowo-Sandi menang dengan selisih 19,5 persen,” tandasnya, seperti dikutip dari rmol.co.