Pers Indonesia, Bertahan pada Idealisme atau Realistis?

Nasional

NOTULA – Rapat kerja (Raker) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat diwarnai munculnya dua pandangan terkait keadaan pers saat ini, antara idealistis vs realistis.

Ketua Dewan Kehormatan PWI, Ilham Bintang, mengatakan, saat ini ada tiga kategori ancaman terhadap pers, yakni pemerintah, preman (di belakangnya partai) dan pemilik modal, yang 95 persen berafiliasi pada partai.

“Belakangan Indeks Kebebasan Pers yang diumumkan Dewan Pers menunjukkan, intervensi pemerintah pada media menurun, sedangkan intervensi pemilik media atau pemilik modal pada news room (wartawan) meningkat,” kata Ilham, dalam keterangan tertulis humas PWI Pusat yang diterima redaksi, Selasa, (22/1).

Diksi ‘intervensi’, khususnya untuk pemilik media, pemilik modal, pada news room atau wartawan, memancing pro kontra.

Kalangan yang pro berpandangan, pemilik modal tidak boleh mencampuri idealisme kerja redaksi dan wartawan yang otonom, yang berpihak pada kepentingan umum.

Lain hal dengan pihak yang kontra, mereka melihat secara realistis bahwa usaha media harus dijalankan pemilik modal atau media bersama wartawan atau news room, agar tetap hidup, apalagi di tengah kondisi pers yang sulit sekarang ini.

Seperti diutarakan Ketua Dewan Penasihat PWI, Margiono. Dia mengingatkan, media tidak hidup di ruang hampa, karena itu harus belajar pada kondisi riil.

Margiono pun menambahkan, bahwa wartawan harus membela perusahaan, supaya tetap hidup.

“Sepanjang seseorang menjadi wartawan, ya harus tunduk pada (pemilik) medianya. Kalau tidak mau tunduk, ya bikin media sendiri,” tutur mantan Ketua Umum PWI itu.

Raker PWI Pusat digelar di Jakarta, 21-22 Januari 2019.