Pernah Naik Becak?

Malang Raya

NOTULA – Pernah merasakan naik becak? Kalau pertanyaan ini ditujukan untuk generasi milenial, mungkin semua geleng kepala.

Memang, untuk memenuhi mobilitas saat ini, moda transportasi kayuh dengan roda tiga itu jelas tidak efisien dan efektif lagi. Bahkan ada kesan eksploitasinya.

Faktanya becak hingga kini masih ada. Terus bagaimana si abang becak bisa mendapat penghasilan? Padahal setiap hari harus berkompetisi dengan angkutan online, yang tinggal akses melalui smartphone.

Saat ini becak memang sudah jadi transportasi kuno bagi sebagian kalangan.

Seorang tukang becak, Suparman, saat ditemui notulanews, Kamis (19/11/20), mengatakan, setiap hari ia mengayuh becak dari rumahnya di Bululawang, Kabupaten Malang, menuju tempatnya mangkal, di Jalan KH Agus Salim, Kota Malang. Di situ dia berspekulasi hingga pukul 21.00 WIB.

Dia mengakui, kini penghasilannya sangat minim, kalah bersaing dengan transportasi online. Iya menyadari, kemajuan teknologi tak bisa dihindari. Sebab itu dia pasrah, namu tak mau berhenti ikhtiar.

“Sebelum ada transportasi online, paling tidak saya bawa pulang sekitar Rp 100 ribu. Bahkan bisa lebih. Sekarang, apalagi ada Covid-19, paling banyak Rp 30 ribu,” tuturnya, sembari mengelap keringat di muka dan lehernya.

“Ya harus tetap semangat, karena untuk kebutuhan sehari-hari keluarga,” imbuh laki-laki 42 tahun itu.

Setiap hari ia hanya berdoa, semoga masih ada masyarakat yang berminat naik becak.

Sesungguhnya, becak dan pengayuhnya adalah heritage yang nyata, yang perlu ada sentuhan dari pemegang kebijakan.