Pemuda Demokrat Indonesia Berbagi Sembako untuk Seniman

Malang Raya

NOTULA – Berbagai sendi dan aspek kehidupan benar-benar terpengaruh dampak merebaknya Covid-19 (Corona), terlebih para seniman tradisional yang menggantungkan kehiduoannya dari pementasan.

Menyikapi itu, Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang tidak diam diri. Minggu (19/4), rombongan yang dipimpin Boy Kancil, bergerak menuju Padepokan Seni Topeng Asmorobangun, di Dusun Kedungmonggo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

“Corona membuat mereka tidak bisa mengekspresikan gelegak berkesenimanan. Padahal dari pentas dan atraksi itulah mereka hidup,” jelas Boy Kancil yang selain pengusaha juga dikenal sebagai seniman itu.

Di padepokan itu rombongan diterima Suroso, cucu maestro tari topeng, mBah Karimun. Bantuan berupa beras, mie, sarden dan lain-lain, diserahkan untuk para seniman, berjumlah 50 paket.

Sehari sebelumnya, Pemuda Demokrat Indonesia Kota Malang itu juga membagikan paket sembako, menyasar 5 kecamatan yang ada di Kota Malang.

“Kegiatan serupa masih akan berlangsung, mengingat kondisi juga serba belum ada kepastian, kasihan saudara-saudara kita yang terdampak,” tutur Boy Kancil.

Sebelumnya diberitakan, beberapa waktu lalu Ormas kepemudaan itu melakukan aksi penyemprotan disinfektan di sejumlah wilayah Kota Malang, seperti di kawasan RT 6 RW VI Dukuh Mboro Urek-urek, Pakis, Kabupaten Malang, sepanjang hari Jumat (10/4).

Salah satu tokoh Pemuda Demokrat Indonesia, Miftah Arifin, menjelaskan, perang melawan virus Corona (Covid-19) harus melalui aksi nyata, terlebih menyangkut keselamatan masyarakat.

“Aksi penyemprotan ini dilakukan secara bergotong royong dengan para pemuda warga setempat, bahkan tokoh masyarakat seperti pak RT, ikut terlibat langsung,” katanya bangga.

Kegiatan sosial serupa juga sudah dilakukan organisasi itu di beberapa wilayah Kota Malang, seperti di Jalan Permadi Bawah, Kelurahan Polehan (Blimbing) dan di kawasan Tanjung (Sukun).

Kegiatan sosial itu tidak hanya dilakukan pada pagi hari, tapi juga malam hari, tidak hanya di rumah -rumah warga saja, tapi juga tempat -tempat ibadah dan fasilitas umum.

Sekadar info, Pemuda Demokrat Indonesia didirikan pada 1 Mei 1947 di Solo, beranggotakan tokoh-tokoh nasionalis berjiwa kebangsaan, terbuka, anti kapitalisme, imprealisme, kolonialisme dan feodalisme.