Pekerja Korban Insiden Nduga Harus Dapat Santunan Kecelakaan Kerja

Nasional

NOTULA – Insiden yang menimpa pekerja pada penembakan di Nduga, Papua, juga dikategorikan sebagai kecelakaan kerja, sehingga harus mendapat santunan atau Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm).

Pernyataan itu disampaikan Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, di Jakarta, Minggu (9/12). Menurutnya, dalam terminologi pekerja, kejadian itu masuk dalam kecelakaan kerja. “Ini sama seperti pilot dan pramugari pesawat Lion yang jatuh beberapa waktu lalu,” tegasnya.

Pada saat mereka bekerja lalu mengalami kecelakaan dan mengakibatkan meninggal, maka sesuai PP 44/2015 masuk kategori kecelakaan kerja yang mengakibatkan meninggal dunia.

Maka, secara normatif, lanjut dia, kondisi itu harus ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS Ketenagakerjaan), sebagai peserta korban kecelakaan kerja yang mengakibatkan kematian. Untuk itu ahli waris berhak atas 48 kali upah, biaya pemakaman, dan beasiswa.

“Namun, adanya negosiasi dan ribut antara perusahaan dan keluarga, mengindikasikan kuat bahwa PT Istaka Karya belum mengikutsertakan pekerjanya ke BPJS Ketenagakerjaan. Karena, kalau sudah didaftarkan, sebenarnya tinggal lapor ke BPJS TK saja. Perusahaan tidak perlu negosiasi lagi,” tambahnya.

Bila perusahaan tidak mengikutsertakan pekerja ke BPJS TK, lanjutnya, maka sesuai PP 44/2015, perusahaan wajib membayar penuh seperti yang harus ditanggung BPJS TK.

“Momentum ini harusnya dijadikan evaluasi bagi pemerintah untuk memastikan seluruh pekerja yang dipekerjakan di proyek infrastruktur sudah didaftarkan di BPJS Ketenagakerjaan,” katanya lagi.

Negosiasi antara PT Istaka Karya dan keluarga dari karyawannya yang menjadi korban tewas akibat dibunuh kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Kabupaten Nduga, yang digelar di Timika, Kabupaten Mimika, Papua, Jumat (7/12) lalu, berjalan alot.

Keluarga menolak bila perusahaan hanya memberikan santunan sebesar Rp24 juta kepada keluarga korban, dalam pertemuan yang digelar di Hanggar Bandara Mozes Kilangin Timika itu.

Keluarga korban marah saat mendengar penjelasan perwakilan PT Istaka Karya bahwa jumlah itu sesuai dengan peraturan, karena peristiwa itu tidak masuk dalam kategori kecelakaan kerja.