Negara Asia Pasifik Sepakat Tingkatkan Perhatian Industri 4.0

Ekbis

NOTULA – Untuk memberikan perhatian serius menjelang era revolusi industri 4.0, Indonesia menggandeng negara-negara di Asia Pasifik. Komitmen akan diperkuat dan saling melengkapi melalui program regional strategis dengan membawa kesejahteraan ekonomi bersama.

“Kami percaya, transformasi terhadap industri 4.0 akan membawa kita ke model bisnis baru pada industri manufaktur yang dapat memberi daya saing dan nilai tambah yang lebih tinggi,” tutur Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, melalui keterangannya, Senin (12/11).

Dia mengatakan, Konferensi Regional Pembangunan Industri yang digelar Jumat lalu (9/11) bertujuan berbagi kebijakan, pengalaman, teknologi, pengetahuan dan praktik terbaik terkait pengembangan sektor manufaktur dan implementasi industri 4.0.

Konferensi dihadiri perwakilan negara-negara di Asia Pasifik, seperti Bangladesh, Bhutan, Jepang, Kamboja, Korea Utara, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Timor Leste, dan Vietnam.

“Salah satu programnya adalah capacity building. Misalnya, dari negara lain nanti ada yang ikut pelatihan di Indonesia, mereka melihat langsung industri yang menjadi pilot project di dalam Making Indonesia 4.0. Jadi, kita sharing pengalaman dan kebijakan Indonesia tentang penerapan industri 4.0,” paparnya.

Seperti dikutip dari rmol.co, Airlangga mengatakan, untuk mengubah menjadi negara yang kompetitif di era revolusi industri 4.0, diperlukan integrasi konektivitas, teknologi, informasi dan komunikasi. Upaya itu mampu mengarahkan proses industri lebih efisien dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

“Jadi paradigma baru bergeser, yang memposisikan proses manufaktur sebagai hasil dari penggunaan internet yang memungkinkan terjadinya komunikasi antarmesin serta antara manusia dengan mesin secara real time, yang akan menciptakan smart products and smart services,” tuturnya.

Ke depan, industri 4.0 juga diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor industri kecil dan menengah (IKM).

“Munculnya berbagai digital marketplace dan online services tidak saja menghubungkan IKM dengan pelanggan lokal tetapi juga dengan pasar regional yang jauh lebih besar. Hal ini akan pula membawa pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” pungkasnya.