NOTULA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan keprihatinan dan duka mendalam atas terjadinya kerusuhan massa yang dilakukan sekelompok orang setelah penetapan hasil rekapitulasi Pemilu 2019 oleh KPU, 21 Mei dinihari.

Terlebih peristiwa itu telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan korban luka-luka. Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi, melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi, Kamis (23/5).

“MUI menyampaikan takziyah dan bela sungkawa, semoga almarhum khusnul khotimah dan kepada keluarga korban diberi kekuatan dan kesabaran. Untuk para korban yang sakit dan luka-luka semoga segera pulih kembali dan diberi kesembuhan,” ungkap Zainut.

MUI menilai, aksi kerusuhan itu sebagai bentuk tindakan brutal dan anarkhis yang bertujuan ingin menciptakan kekacauan, konflik dan perpecahan di kalangan masyarakat, dengan cara memprovokasi dan mengadu domba diantara elemen bangsa.

Bahkan pihaknya juga menekankan, aksi kerusuhan yang dilakukan pada bulan Ramadan sangat disesalkan, karena telah menodai kesucian bulan yang sangat dimuliakan umat Islam, dan hukumnya haram.

“Kami (MUI) meyakini, kerusuhan yang terjadi bukan dilakukan para pengunjuk rasa dan peserta demonstrasi, tetapi dilakukan sekelompok orang yang berniat jahat, menginginkan Indonesia terkoyak dan tercerai berai,” tuturnya.

MUI juga mengapresiasi aparat keamanan yang bertindak cepat menangkap para pelaku kerusuhan. Selain itu MUI juga meminta menindak tegas dan mengusut tuntas aktor intelektual, otak dan dalang kerusuhan itu.

“Sehingga tidak menimbulkan fitnah, saling tuduh dan curiga diantara elemen masyarakat,” tandasnya, seperti dikutip dari rmol.co.