NOTULA – Pemkot Malang melalui Dinas Pertamanan dan Permukiman (Perkim) berupaya mempercantikan dan mempertegas fungsi Taman Chairil Anwar (CA) di Jalan Basuki Rahmat.

Plt Kepala Dinas Perkim, Diah Ayu Kusumawardani, berpendapat, langkah menata kembali (rekonstruksi) Taman Chairil Anwar telah mempertimbangkan 2 (dua) hal, aspek kesejarahan dan aspek sosial.

“Aspek sejarah menghantarkan rekonstruksi pada konsep monumental. Karena hasil evaluasi skala visual, berdasar perkembangan yang ada, patung Chairil Anwar tidak menonjol untuk view kota. Padahal masyarakat harus tahu sejarah monumental Chairil Anwar. Sehingga dilakukan peningkatan skala visual dengan cara meninggikan posisi patung,” urai Diah Ayu.

Sedang aspek sosial, dijelaskan, rekonstruksi taman dibobotkan pada respon dan langkah upaya Pemkot menata taman, sehingga dapat menampung aktivitas komunitas pecinta taman di area itu.

Asisten Administrasi Pembangunan itu menambahkan, Taman Chairil Anwar memiliki luas area 240,28 M2, berbentuk segitiga, dengan pedestrian yang mengelilingi. Anggaran untuk tata ulang taman ini sebesar Rp 166.561.000.

Secara terpisah, Walikota Sutiaji menegaskan, untuk menguatkan Malang sebagai kota heritage, salah satunya lebih memantabkan keberadaan Taman CA yang memiliki nilai histori tinggi.

Di Indonesia sendiri, kota yang memiliki patung CA hanya ada dua, Jakarta dan Kota Malang. Tapi, yang dinilai khas dan bobot historinya tinggi justru yang ada di Kota Malang. Yang di Jakarta patung CA disandingkan dengan tokoh lainnya serta berada dalam Gedung Monas, sedang di Kota Malang berdiri sendiri dan berada di ruang terbuka.

Berdasar catatan sejarah, Chairil Anwar yang dikenal dengan syair-syair yang melegenda dan menebarkan semangat juang seperti ‘Aku’, ‘Si Binatang Jalang’, serta ‘Karawang Bekasi’, pernah hadir dan terlibat aktif dalam pergerakan kebangsaan di Kota Malang, tepatnya pada 25 Pebruari 1947 sampai dengan 6 Maret 1947.

Penyair lahir pada 26 Juli 1922 itu hadir di Kota Malang pada Sidang Pleno ke-5 Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), di Gedung Societiet Concordia (sekarang Gedung Sarinah red). Sidang pleno itu pula yang menjadi cikal bakal keberadaan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia.

Protet kesejarahan itulah yang menjadi pijakan program tata ulang Taman CA, sekaligus menguatkan Malang City Heritage, karena keberadaan Taman Chairil Anwar menjadi triangle view bersama Gereja Katolik Hati Kudus yang didirikan pada 1905 (sebelah gedung Concordia) dan Toko Oen yang berdiri sejak 1930.