LSI: Mayoritas Publik Tolak Penundaan Pemilu 2024

Nasional

NOTULA – Wacana penundaan Pemilu 2024 dan penambahan masa jabatan Presiden mendapat penolakan mayoritas masyarakat. Demikian Rilis survei terbaru dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) bertema “Sikap Publik Terhadap Penundaan Pemilu dan Masa Jabatan Presiden”.

Menurut Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan, hasil survei itu didapat dari dua pertanyaan yang disodorkan kepada responden. Pertama, Presiden Joko Widodo diperpanjang masa jabatannya hingga 2027 tanpa Pemilu, karena pandemi Covid yang belum berakhir.

Kedua, sesuai UUD 1945, presiden harus dipilih rakyat dan dibatasi hanya 2 masa jabatan, masing-masing selama 5 tahun, dan Presiden Jokowi harus berakhir masa jabatannya pada 2024, meski pandemi belum berakhir.

Adalah tugas presiden baru untuk meneruskan tugas menanggulangi pandemic, jika pada 2024 Covid belum berakhir.

“Hasilnya, 70,7 persen menyetujui pendapat kedua. Artinya menolak perpanjangan masa jabatan presiden,” kata Djayadi Hanan, saat memaparkan hasil surveinya secara virtual, Kamis (3/3/22).

Dia juga menjelaskan, responden yang setuju pendapat “Presiden Jokowi diperpanjang masa jabatannya hingga 2027 tanpa Pemilu karena pandemi yang belum berakhir” relatif kecil, hanya 20.3 persen.

Bahkan, lanjutnya, di kalangan masyarakat yang mengetahui isu penundaan Pemilu dan penambahan masa jabatan Presiden sendiri tingkat penolakannya jauh lebih tinggi. “Yaitu 74 persen. Di kalangan yang tidak tahu isu itu penolakannya lebih rendah tapi tetap mayoritas, 67,5 persen,” tuturnya.

Sebab itu, LSI memotret isu penundaan Pemilu dan penambahan masa jabatan Presiden tidak dikehendaki mayoritas publik.

“Ada dua yang bis akita lihat, pertama, isu perpanjangan masa jabatan presiden ditolak mayoritas masyarakat Indonesia menurut survei ini. Kedua, kalau isu ini makin disebarkan, makin diketahui public, maka tingkat penolakannya cenderung makin tinggi,” ujarnya.

“Sikap dasar masyarakat adalah menolak perpanjangan. Itu sikap dasarnya,” tutur Djayadi Hanan, sembari mengatakan, survei LSI ini digelar pada medio 25 Februari – 1 Maret 2022.

Metode simple random sampling yang digunakan, dengan sampel basis sebanyak 1.197 responden dan toleransi kesalahan (margin of error atau MoE ±2,89 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Sampel, seperti dikutip dari rmol.id, berasal dari 34 provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Survei ini mewakili 71 persen dari populasi pemilih nasional.