Laskar Hizbullah: Kembalikan NU ke Pesantren dan Dzuriah Pendiri

Nasional

NOTULA – Jelang Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) di Lampung, muncul harapan dari nahdliyin, di antaranya disampaikan dzuriah Laskar Hizbullah dan Sabilillah, agar muktamar menelorkan putusan yang sesuai harapan, cita-cita, maksud, serta tujuan didirikannya NU oleh para pendiri.

Kordinator Laskar Hizbullah Sabilillah, ​​​​​​​​Yusuf Husni Syaki, Kamis (25/11/21), menegaskan, marwah dari pada pendiri NU yang seharusnya terus dijaga adalah mengembalikan NU kepada pesantren.

“Karena roh NU itu ada di pesantren, bukan di hotel, atau di gedung apalagi gedung milik publik atau pemerintah,” tegas Yusuf dalam keterangannya, seperti dikutip dari rmol.id.

Laskar Hizbullah dan Sabilillah, sambungnya, didirikan sebagai tentara pejuang kemerdekaan oleh PBNU, artinya anak kandung dari NU. Sehingga tidak rela jika NU lari jauh dari cita-cita, maksud dan tujuan didirikan jam’iyah NU sebagaimana keprihatinan para dzuriah pendiri NU selama ini, yang dapat tertangkap ke telinga para dzuriah Laskar Hizbullah dan Sabilillah.

Sebab itu, Dzuriah Laskar Hizbullah dan Sabilillah mengimbau kepada para muktamirin agar mewarnai Muktamar NU dengan kemurnian aspirasi secara ikhlas, tanpa embel-embel apapun dan tetap melihat pandangan NU ke depan sesuai cita-cita pendiri jam’iyah NU.

Setidaknya, sambung Yusuf lagi, muktamirin melihat menggunakan standar garis kebijakan organisasi sesuai keputusan Muktamar NU Situbondo 1984 yang memutuskan kembali ke khittah 1926.

Dengan begitu pengurus PBNU istiqomah, dapat menjaga jarak dengan semua kekuatan politik praktis dan tidak ikut bermain politik, dukung mendukung dan calon atau mencalonkan.

Selain mengembalikan marwah NU ke pesantren, Yusuf juga berharap nahkoda PBNU perlu dikembalikan ke pesantren, termasuk susunan pengurus yang ada di semua tingkatan, secara berjenjang sesuai AD ART NU.

Bila semua tokoh yang akan maju masih dianggap meragukan dapat menjaga marwah NU sesuai cita cita para pendiri, dia memandang, selayaknya dikembalikan kepada dzuriah pendiri NU.

“Setidaknya dikonsultasikan dengan dzuriah Pendiri NU, agar tidak terlalu jauh keluar rel atau dianggap sebagai jamaah yang telah menghianati cita-cita, maksud dan tujuan didirikannya jam’iyah NU,” katanya.