NOTULA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) benar-benar gerah dengan beredarnya video yang menggambarkan diskusi sekelompok orang yang menyebut server KPU telah di-setting untuk memenangkan pasangan calon tertentu di Pilpres.

Kegerahan pun berlanjut. Ketua KPU, Arief Budiman, akhirnya melapor ke Bareskrim Polri. Menurutnya, peredaran video itu telah mengganggu kredibilitas KPU sebagai penyelenggara Pemilu.

“Malam ini (Kamis, 4/4) KPU merasa ada sesuatu yang penting dan perlu disampaikan kepada Bareskrim. Karena kami merasa (video) itu mengganggu kepercayaan publik terhadap KPU. KPU disebut menyetting servernya untuk memenangkan salah satu Paslon,” jelas Arief, di Bareskrim, Gedung Awaloedin Djamin, Trunojoyo, Jakarta.

Pada kesempatan itu juga Arief membantah pihaknya melakukan pengaturan seperti didiskusikan dalam video itu. Dia memberi tiga pernyataan mewakili KPU terkait hoaks itu. Pertama, ia menegaskan, tidak benar bahwa server KPU ada di luar negeri.

“Semua server KPU ada di dalam negeri dan dikerjakan oleh anak-anak bangsa,” kata dia, seperti dikutip dari rmol.co.

Pernyataan kedua, terkait hasil Pemilu, Arief menjelaskan, hal itu diawali dengan proses penghitungan suara dan rekapitulasi dilakukan secara manual dan berjenjang. Dimulai dari TPS, rapat pleno terbuka di BPK, KPU kabupaten/kota, rapat pleno di KPU Provinsi, dan rapat terbuka di KPU RI secara nasional.

“Dan yang ketiga, hasil scan form C1 yang selanjutnya diunggah di website KPU, dilakukan setelah penghitungan suara di TPS,” tuturnya.

Jadi pada dasarnya, kata dia, hasil suara di TPS sudah diketahui dulu oleh publik. Karena pada saat proses di TPS itu ada saksi, Panwas, pemantau, media massa, masyarakat pemilih, dan aparat keamanan.

“Semua pihak diberi kesempatan mendokumentasikan hasil penghitungan suara dalam form C1 Plano. Dengan demikian tidak benar tuduhan bahwa KPU sudah mensetting perolehan suara Capres Cawapres tertentu melalui sistem IT,” katanya.