KPK Geledah Rumah Ihsan Yunus Tanpa Hasil, Ubedilah Khawatir Juga Terjadi di Rumah Herman Herry

Nasional

NOTULA – Penyidik KPK dinilai kurang fokus terhadap sasaran penting pada perkara dugaan korupsi Bansos Covid-19, karena terlebih dulu menggeledah rumah politisi PDIP, Ihsan Yunus, ketimbang rumah Herman Herry.

Menanggapi kenyataan itu, analis sosial politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, berpendapat, upaya KPK mengungkap kasus korupsi Bansos patut diapresiasi. “Tetapi dari sisi kecepatan membongkar pelaku lainnya justru lambat,” tuturnya, seperti dikutip dari RMOL.id, Kamis (25/2/21).

Dia juga menilai, penggeledahan yang dilakukan di rumah Ihsan, selain terlihat kurang fokus, juga terlambat, karena sudah dua bulan dari peristiwa ditahannya Juliari Peter Batubara (JPB), yang Ketika itu masih menjabat sebagai Menteri Sosial, dan baru ditahan KPK.

Ubedilah juga menilai, KPK kurang focus, karena berdasar data investigasi media Tempo, perusahaan yang diduga terafiliasi dengan Herman Herry dan Ihsan Yunus mendapat kuota terbesar pada proyek Bansos itu, mencapai Rp 3,4 triliun.

Dari nilai itu, perusahaan yang diduga terafiliasi dengan Herman Herry mendapat 7,6 juta paket bantuan atau senilai Rp 2,1 triliun.

“Nah, dari situ terlihat nilai kuota terbesar diperoleh Herman Hery yakni Rp 2,1 triliun. Jadi kalau Ihsan Yunus duluan yang digeledah, KPK kurang fokus pada sasaran penting,” tegas Ubedilah.

Sebab itu Ubedilah mengaku khawatir, jika penyidik melakukan penggeledahan di rumah Herman Herry, juga akan bernasib sama saat menggeledah rumah Ihsan, tak dapat apa-apa, karena jeda terlalu lama.

“Meski mungkin KPK mau dimulai dari Ihsan Yunus dulu. Ternyata penggeledahan di Ihsan Yunus tidak mendapat bukti baru, saya khawatir hal yang sama bisa terjadi di rumah Herman Herry,” katanya.

Karena, sambung Ubedilah, waktu dua bulan dapat dimanfaatkan untuk menyembunyikan atau bahkan menghilangkan barang bukti.

“Saya kira KPK harus membuktikan kredibilitasnya untuk serius ungkap korupsi terjahat sepanjang sejarah Indonesia ini,” pungkasnya.