Kosek Ruang Kerja Kemenpora, KPK Sita Proposal dan Dokumen Hibah

Nasional

NOTULA – Upaya paksa penggeledahan ruang kerja Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi akhirnya dilakukan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), didasari sejumlah alasan mendasar.

Jurubicara KPK, Febri Diansyah, menegaskan, menteri Imam Nahrawi diduga mengetahui proses pengajuan proposal hibah dari KONI itu.

“Proses pengajuan proposal hibah kan ada alurnya, dimulai dari pemohon ke Menpora. Bisa saja Menpora langsung mempertimbangkan atau mendelegasikan atau mendisposisikan misalnya, dan bagaimana proses berikutnya jika disetujui atau tidak disetujui, nah perlu kami temukan secara lengkap,” tegas Febri, Kamis (20/12) malam.

dia juga menjelaskan, ada beberapa dokumen proposal hibah yang disita dari ruangan Nahrawi. Namun dia enggan menyebut secara detail proposal yang dimaksud. “Tadi dari ruang Menpora diamankan sejumlah proposal dan dokumen hibah,” demikian Febri.

Sebetulnya, sambung Febri, penggeledahan dilakukan pada sejumlah ruangan. Dan salah satu yang disasar tim penyidik KPK adalah ruang kerja Menpora Imam Nahrawi

“Dari lokasi-lokasi itu kami menemukan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perkara pokok. Tapi tidak ada penyitaan uang,” tambahnya.

Bersamaan dengan penggeledahan yang dilakukan sejak siang sampai sore di beberapa ruangan di Kemenpora itu , tim penyidik juga melakukan penggeledahan di Kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Seperti diberitakan, dalam kasus ini KPK telah menetapkan lima tersangka, tiga di antaranya penerima suap, yakni Deputi IV Kemenpora, Mulyana, PPK Kemenpora Adhi Purnama, dan Staf Kemenpora, Eko Triyanto.

Sementara itu dua tersangka lain diduga sebagai pemberi suap, yakni Sekretaris Jenderal KONI, Ending Fuad Hamidy dan Bendahara Umum KONI, Jhoni E Awuy.

Alat bukti yang diamankan KPK berupa uang tunai senilai Rp 318 juta, buku tabungan, dan ATM dengan saldo sekitar Rp 100 juta, satu unit mobil Chevrolet dan bingkisan uang tunai di KONI senilai Rp 7 miliar.