Korupsi Hibah Kemenpora Diduga Dilakukan Terencana

Nasional

NOTULA – Korupsi yang terjadi pada penyaluran dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) diduga dilakukan terencana.

“Korupsi di Kemenpora itu ada desain, atau dilakukan by design,” tegas Sekjen Pro Demokrasi (Prodem), Satyo Purwanto, dalam diskusi ‘Lingkaran Dana Hibah Kemenpora’, di Menteng, Jakarta, Kamis (10/1).

Dana hibah, menurut Satyo, merupakan dana yang tidak terdaftar dalam Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) kementerian. Penyaluran dana hibah berdasarkan pengajuan.

“Jadi ini tidak ada dalam isian DIPA pada tahun sebelumnya, karena sifatnya hibah yang bisa diajukan oleh badan yang menginduk ke Kemenpora, seperti KONI,” jelasnya.

Dengan begitu, kata Satyo Purwanto, korupsi yang terjadi di Kemenpora adalah penyaluran hibah, sudah barang tentu merupakan hasil pembahasan. Setidaknya, saat proposal diajukan.

“Ini tidak akan terjadi kalau tidak ada pembicaraan sebelumnya,” tegasnya, seperti dikutip dari rmol.co.

Seperti diberitakan, KPK mengungkap kasus dugaan suap dana hibah Kemenpora untuk KONI dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada pertengahan Desember 2018 lalu.

Dari operasi senyap itu, KPK menetapkan lima tersangka, tiga diantaranya merupakan penerima suap. Mereka adalah Deputi IV Kemenpora, Mulyana; PPK Kemenpora, Adhi Purnama; dan Staf Kemenpora, Eko Triyanto.

Sebagai pihak diduga pemberi suap adalah Sekretaris Jenderal KONI, Ending Fuad Hamidy; dan Bendahara Umum KONI, Jhoni E Awuy.

Alat bukti yang diamankan KPK berupa uang tunai senilai Rp. 318 juta, buku tabungan dan ATM dengan saldo sekitar Rp. 100 juta, satu unit mobil Chevrolet dan bingkisan uang tunai di KONI senilai Rp. 7 miliar.