Korban Tsunami Dipungli, Polisi Periksa Empat Terduga Pelaku

Nasional

NOTULA – Maraknya laporan terkait pungutan liar (Pungli) terhadap korban tsunami di Banten, polisi pun bergerak cepat dan telah memeriksa empat orang, oknum di Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang.

Ironisnya, yang menjadi korban Pungli para oknum pegawai RS itu justru keluarga korban tsunami yang tentu tengah dirundung duka dan kesedihan.

“Status masih klarifikasi, yang kami periksa ada 4 orang,” kata Kapolres Serang Kota, AKBP Firman Affandi, seperti dikutip dari rmol.co, Kamis (27/12) malam.

Keempat oknum itu berinisial BY (supir ambulans), TF (staf forensik), dr AR (kepala kmr mayat) dan dr BD (kepala forensik).

“Nanti ada konferensi pers dengan Kapolda langsung. Sekarang kami butuh waktu untuk pendalaman, mencari bukti-bukti pendukung atau data-data dan lain-lain,” jelasnya.

Secara terpisah, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, mendesak Tim Saber Anti Pungli Mabes Polri dan Polda Banten segera menurunkan tim untuk mengusut dugaan Pungli yang dilakukan pihak rumah sakit kepada keluarga korban tsunami Selat Sunda, di Banten.

IPW, lanjut Neta, berharap jajaran kepolisian tidak membiarkan aksi Pungli itu terjadi. Jika Polri dan Polda Banten membiarkannya, sama artinya jajaran kepolisian membiarkan keluarga korban dua kali kena bencana.

“Setelah kena bencana tsunami, ternyata masih kena bencana pungli oleh oknum rumah sakit. Aksi pungli dari Rp 900 ribu hingga Rp 1,5 juta adalah sebuah kebiadaban,” sesalnya.