Ki Lulus, 44 Tahun Produksi Kuda-Kudaan Jathilan

Ekbis, Malang Raya, NOT-TV

NOTULA – Tulus Endrawan atau biasa disebut Ki Lulus (60), sudah sejak 1976 menggeluti dunia anyaman dan melukis kuda-kudaan untuk tari jathilan.

Ia selalu didampingi sang istri, Purnami (50), yang dulunya aktif sebagai penari jathilan. Kini, seiring usia, kelincahan Purnami dialihkan dengan menganyam serutan bambu pring apus, untuk properti tari jathilan.

“Banyak yang pesan, kebanyakan dari luar kota, seperti Kalimantan, Sumatera, dan Blitar. Harganya kalau yang besar Rp 200 ribu, kalau yang kecil Rp 20 ribu,” tutur Ki Lulus, saat ditemui di Sanggar Dewan Kesenian Malang, Jalan Majapahit 3, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (20/12/20).

Dia juga menjelaskan, ada banyak jenis jaranan atau kuda lumping, seperti Pegon atau Pego, Sentherewe, Turanggo Yaksa, dan sebagainya. Setiap jaranan juga memiliki varian tari berbeda.

“Ada jathilan untuk anak muda, keras dan lincah, biasanya pakai Sentherewe. Kalau orang tua beda lagi, lebih pelan, pakainya yang Pego,” katanya.