NOTULA – Malang memang tak pernah kehabisan potensi untuk digali, dan tak pernah kering untuk selalu berekspresi. Selalu ada cerita dan sesuatu untuk dikenang bagi siapa saja yang pernah datang dan singgah di kota ini.

Selain potensi alamnya yang indah, masyarakat dengan senyum yang selalu merekah, juga diimbangi dengan tidak hentinya berbenah diri, terlebih bagi mereka yang berjiwa seni.

Kota Malang juga tak pernah tua dan lelah. Kota dingin ini terus melahirkan bakat-bakat seni dengan caranya sendiri. Dengan keunikan yang selalu tampil mengesankan.

Jika berkesenian adalah upaya untuk merawat, menjaga, dan melestarikan kebudayaan, maka hal inilah yang kemudian diamini kelompok seni kontemporer Ki Ageng Wali.

Di bawah kendali Ustad Rois, mereka menggarap lagu-lagu sholawat dengan berbagai genre. Nuansa yang dibangun kelompok seni ini berformat perpaduan instrument karawitan dan modern.

Upaya melestarikan kebudayaan itu juga tak luput dari perhatian kalangan muda. Seperti diungkapkan Tiwus, salah satu musisi Malang, bahwa kelompok musik asli Malang ini mempertahankan musik khas Malangan sebagai pijakan dalam mengaransemen setiap komposisinya.

“Kami coba mempertahankan kesenian khas Malangan dalam setiap lagu-lagu yang kami bawakan. Salah satunya dengan gamelan besi dan kendang Malangan,” kata vokalis Ki Ageng Wali, yang Kamis (6/12) malam mengekspresikan karya-karyanya di Studio d’Kross.

Mereka mencoba lebih dekat dengan pegiat sekaligus tokoh pemuda di Malang. Salah satunya bekerja sama dengan Frontman d’Kross, Ir H Ade Herawanto MT. Harapannya, pemuda dan masyarakat bisa kembali mengenal musik asli Malangan dan kesenian yang mereka miliki.

“Kali ini saya sediakan waktu dan tempat untuk latihan bagi mereka, di Studio d’Kross. Semoga kita bisa sama-sama melestarikan kebudayaan Malang yang kita miliki ini,” kata Kepala Badan Pelayanan Pajak Daerah Kota Malang ini.