Ketua KPU: Sistem Pemilu Indonesia Rumit, hingga Banyak Korban

Nasional

NOTULA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadikan Pemilu 2019 sebagai pelajaran penting bagi penyelenggara pemilu, terlebih banyak korban jiwa dari petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS).

Fakta dan kenyataan itu menjadi catatan serius bagi KPU untuk berbenah, agar pemilu 2024 mendatang tidak menelan korban.

Pernyataan itu disampaikan Ketua KPU RI, Ilham Saputra, saat berbincang mengenai sistem rekapitulasi pemungutan suara dalam pemilihan umum, Kamis (3/2/22).

Rumitnya penyelenggaraan Pemilu di Indonesia, kata dia, menjadi salah satu penyebab korban jiwa berjatuhan. Tak sedikit petugas KPPS kelelahan, hingga menimbulkan korban.

Sebab itu, Ilham memastikan, pada Pemilu mendatang, KPU telah mengubah batas usia maksimal 50 tahun bagi petugas KPPS untuk mengantisipasi rentannya petugas mengalami kelelahan.

“Itu kita coba perbaiki pada Pemilihan Kepala Daerah 2020, kita batasi usia,” imbuh Ilham, seperti dikutip dari rmol.id.

Ilham juga mengklaim, KPU telah membuat sistem informasi rekapitulasi elektronik (Sirekap) dalam pelaksanaan Pilkada 2020. Namun diakuinya, penggunaan Sirekap hanya sebatas membantu percepatan kerja KPU dan mempublikasikan hasil penghitungan suara.

Dia menilai, bahwa Pemilu di Indonesia sangat rumit, terlebih jika dilakukan secara serentak dengan lima kotak pada Pemilu 2024.

“Tapi, tetap saja, Undang-undang 7/2017 tetap berlaku sampai saat ini. Pemilu serentak akan terlaksana di 2024,” pungkasnya.