Ketua KPK Sudah Temukan Sumber Korupsi di Indonesia

Nasional

NOTULA – Pemrakarsa Poros Nasional Pemberantasan Korupsi (PNPK), Adhie M Massardi, berpendapat, Ketua KPK, Firli Bahuri, sudah menemukan sumber korupsi di Indonesia, yakni berawal dari ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) 20 persen yang mengakibatkan mahalnya biaya politik.

Pernyataan itu disampaikan Adhie M Massardi usai Dialog Pra Konferensi Nasional PNPK bertajuk “Menghentikan Kejahatan Pejabat Kotor dan Pengusaha Kotor Merampok Kekayaan Negara”, di Cafe House of Arsonia, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (15/12/21).

“Saya sangat menghormati, Pak Firli sudah menemukan sumber korupsi di Indonesia, yaitu di sektor pemilihan umum, di sektor elektoral. Dan biang dari semua masalah itu ada di presidential threshold,” tegas Adhie.

Dia memandang, gagasan Firli Bahuri terkait presidential threshold menjadi langkah awal bagi bangsa Indonesia untuk bisa menyelesaikan persoalan korupsi.

“Insya Allah, kita dengan cara yang lebih simple, bisa menyelesaikan persoalan bangsa, terutama masalah korupsi di Indonesia ini,” kata mantan jurubicara Presiden Gus Dur itu.

Sebab itu dia berharap gagasan Firli didukung banyak pihak. Karena pada dasarnya apa yang disampaikan Ketua KPK itu jelas mengungkap akar permasalahan dari rasuah yang terjadi di pemerintahan selama ini.

“Jadi saya sangat mendukung langkah-langkah yang dilakukan oleh Pak Firli dalam konteks Pemilu di Indonesia,” pungkas Adhie, sepertti dikutip dari rmol.id.

Seperti diketahui, beberapa hari belakangan, Firli Bahuri menyorot perlunnya presidential threshold 0 persen, agar biaya politik nol rupiah. “PNPK sangat mendukung,” tegas Adhie.

Menurutnya, presidential threshold (PT) maupun parlement threshold hanya melahirkan pemimpin yang pro oligarki. “Karena PT itu instrumen oligarki untuk mencari orang-orang tolol menjadi pemimpin,” tegasnya.

Pertemuan juga dihadiri Pemrakarsa PNPK yang merupakan gabungan dari para tokoh dan aktivis. Mereka adalah Haris Rusly Moti, Marwan Batubara, Alif Kamal, Ferry Juliantono, Anthony Budiawan, Jumhur Hidayat, Hatta Taliwang dan lainnya.