Kebebasan Ba’asyir Bukan Pemberian

Nasional

NOTULA – Sebagaimana termaktub dalam UU 12/1995 pasal 15 ayat 1, setiap narapidana yang telah menjalani dua pertiga masa penahanan mendapatkan hak untuk bebas bersyarat.

Karena alasan itu, Ketua Dewan Pembina Tim Pembela Muslim (TPM), Mahendradatta, menilai Abu Bakar Ba’asyir memang sudah sewajarnya dibebaskan.

“Itu hal yang wajar berdasarkan UU pemasyarakatan, bukan sesuatu yang luar biasa. Ini masalah hukum, bukan politik, apalagi gift atau pemberian,” kata Mahendradata di kantornya, Sabtu (19/1).

Menurutnya, Ba’asyir telah menjalani sepertiga masa hukuman terhitung sejak 13 Desember 2018. Total selama menjalani penahanan, Ba’asyir telah mendapatkan remisi selama 36 bulan.

“Itu (pembebasan) hal yang wajar berdasarkan UU pemasyarakatan bukan sesuatu luar biasa. Apalagi politik, jangan ditarik ke wilayah politik,” tegas Mahendradatta.

Pembebasan Ba’asyir dilakukan Minggu depan, sambil menunggu proses administrasi di LP. Ba’asyir sudah meminta waktu setidaknya tiga hari untuk membereskan barang-barangnya yang ada di sel penjara.

Setelah bebas, Ba’asyir akan pulang ke Solo dan akan tinggal di rumah anaknya, Abdul Rahim. Abu Bakar Ba’asyir divonis 15 tahun dan telah menjalani hukuman sekitar 9 tahun.

Ba’asyir, sempat menderita pembengkakan kaki selama menjalani saat berada di tahanan pada akhir 2017 silam.